Selasa, 08 Juli 2014

Dua Bom Waktu

Masa Lalu

Seharusnya saya tidak disini sekarang, tidak dimana hati dan pikiran saya tertuju, tidak didalam bayang-banyang yang selalu ingin saya buang jauh-jauh, tidak untuk kembali pada masa lalu. Namun pada kenyataanya serangan itu menyerang. Seharusnya pula saya tidak menulis surat ini, untuk apa bukan kah sebelumnya mengingatnya pun saya tak mau, namun sekarang tanpa saya ingatpun semua kembali pada titik awal. Kamu yang saat ini tengah menenguk manisnya  kasih sayang  dari sosok yang baru mungkin hanya berpangku tangan  setelah semua pernyataan yang kamu utarakan. Tapi saya menahan goresan kritil tajam disini. kamu seharusnya lebih peka kamu bilang kamu tau saya lebih dari siapun tapi bahkan untuk menjaga hati saya pun kamu tidak. Bayang-bayang kamu dan kita yang tak lenyap dari pikiran saya, tentang segala hal yang pernah terjadi. Saat ini saya hanya butuh ditenangkan entah oleh kamu atau siapapun tapi kenapa pikiran saya selalu meracau tentang kamu.
Kamu. Kamu. Kamu.
Betapa benci saya segalanya tentang kamu. Tentang kamu yang diam-diam saya cari tahu, tentang kamu yang selalu membuat saya takut, tentang kamu yang selalu membuat saya ingin lari, tentang kamu yang membuat saya merasa dijaga, tentang kamu yang membuat saya seperti memiliki peminpin dan semua tentang kamu yang membuat saya bodoh !!!
Kamu!!!


Kamu 

Awalnya kamu hadir sebagai sosok yang saya anggap biasa-biasa saja, namun saya suka cara kamu dan bahkan saya berpikir kita memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dan saya suka itu. Dan mungkin kamu hadir disaat yang tepat ketika saya harus melepaskan apa yang seharusnya saya lepaskan, namun ketahuilah tanpa saya inginkan  hati saya mulai tertuju pada kamu. Entahlah ini sedikit gila, namun saya memang seperti orang gila ketika mendapat pesan-pesan singkat yang kamu kirimkan meskipun tidak pernah lama untuk kita bertukar cerita mungkin sekitar setengah jam itu rekor terlama. dan sisanya pesan-pesan kamu memang singkat tapi kamu berhasil membuat saya terhipnotis dengan semua kata-kata kamu dan kebiasaanmu. Menggantungkan akhir membicaraan setiap kali kita bertukar pesan. Jujur saya sangat suka dengan sosok yang sedemian rupa, itu membuat saya penasaran dan seolah-olah ingin berjuang. Setidaknya kamu memang memberi saya harapan disana. Iya kamu memberi harapan atau mungkin saya yang lebih cepat berharap.  Kemudian apa yang saya dengar hari ini mungkin memang sedikit tidak masuk akal tapi ini membuat saya menarik napas agak panjang untuk memberikan ruang lenggang untuk dada saya yang tiba-tiba sesak. Ketahuilah seharusnya saat ini saya tersenyum bahagia karena hari ini tepat sehari sebelum usia saya bertambah. Bamun saya seperti dapat dua serangan sekaligus dan salah satunya karena kamu. Bahkan saat ini saya merasa sangat ragu untuk mempertahankan harapan saya, saya sudah memastika perasaan dan ternyata ini jawabannya saya berharap maka saya terluka bukan untuk pertama kalinya.