Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2013

Saya



"iyaa, aku ga janji ya nanti malam bisa dateng, aku cape mau tidur, nanti aku kabarin lagi ya sayang. bye"

Lalu kemudian saya menutup panggilan itu dari seorang pria, sebut saja Dimas. Kekasih saya saat ini. Dimas mengajak saya untuk merayakan hari jadi kami yang baru genap satu bulan. Tetapi karena perasaan saya sedang tidak mood hari ini maka saya memutuskan untuk tidur saja. Merebahkan diri pada tempat tidur lalu dinina bobokan angin sepoy-sepoy sepertinya akan membantu mengembalikan mood saya yang sering kali hancur tiba-tiba ini. 

Pikiran saya melayang tak karuan bersamaan dengan hati saya yang kian berbenturan. Ketika saya mencoba untuk memulai kenapa saya merasa terbentur dengan sebuah keraguan? Ini memang ragu yang muncul tiba-tiba atau karena sebab akibat? Dan kenapa disaat yang bersamaan perasaan yang tak saya inginkan datang bermunculan. Saya teringat kembali pada sosok yang saya tunggu dulu, ia. Lalu pada kamu yang sekarang, saya merasakan sebuah perasaan cemburu tapi sayangnya saya tak ingin berterus terang.

Rintik-rintik hujan menyadarkan saya dari lamunan yang sedang merajai pikiran dan perasaan saya, sesaat saya melirik jam dinding telah menunjukan pukul 20.00WIB. Seharusnya saat ini saya sedang berpegangan erat dengan kamu, mungkin juga seharusnya saat ini kita sedang menikmati makan malam romantis. Atau mungkin jika saya pergi saya tidak akan seragu ini. Saya merasakan sesal. Saya tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Ada rasa sesak menjalar panas ke dada saya. Kenapa saya sering mengabaikan mereka yang mencintai saya, lalu larut dalam penyesalan yang saya ikat simpul yang kemudian saya sendiri sulit lepaskan jeratannya. Sesal itu selalu menghantui saya seolah-olah ikut kemanapun saya pergi. Mendampingi langkah saya, menyamar menjadi bayang-bayang tubuh saya, memayungi ketika panas, ikut menari bersama hujan saya, bahkan berbaring disamping saya ketika tidur. Lalu sekarang ia mengajak saya untuk bercermin meraih tangan saya menuntun tangan saya menghadap cermin besar yang ada dikamar. Berdiri dibelakang saya dan berkata banyak hal tentang kebodohan saya, telinga saya sakit mendengarkannya. Kepala saya pusing dicerca ingatan-ingatan yang terus menerus dia sebutkan. Tenggorokan saya perih terus berteriak menyuruh dia pergi. 

Saya sudah seperti manusia bodoh yang dipenuhi penyesalan. Saya benci perasaan saya sendiri. Saya ingin mengutuk rasa seperti ini lalu kemudian membuangnya jauh-jauh dari saya. Lalu kemudian saya lari kekamar mandi seketika membenamkan kepala saya pada bak mandi terus menerus sampai saya merasa kepala saya dingin. Trus dalam, semakin dalam sampai saya melihat kamu tersenyum rupawan. Lalu kemudian membangunkan saya dari tidur dan mimpi panjang saya mengecup kening saya dan berkata " Happy Aniversarry one month dear" dan menyerahkan sebuah bucket bunga. Seketika itu saya peluk kamu erat-erat sembari menangis karena rasa takut dan haru.


Senin, 29 Juli 2013

?????????

Rasaku mengejar pada setiap lirikan angin
mataku beralih pada setiap sentuhan dingin
disana ada kamu yang menjadi cahaya dalam rasa dan mataku
mungkin kamu energi setiap inspirasiku
dan kamu yang akan tetap menjadi tanda tanyaku

Sabtu, 20 Juli 2013

Surat Terakhir


Aku mulai merasa resah setelah kamu pergi, lebih tepatnya setelah kamu memutuskan tidak meraih aku kembali. Tapi apakah kamu ingat satu hal? Tidak semua hal dapat berjalan instan contohnya saja perasaan aku yang butuh waktu untuk menerima keberadaan kamu dalam keseharianku. Terlalu bodoh mungkin untuk aku yang terlalu sering abaikan kamu. Hingga kamu memutuskan untuk mundur. Tidak masalah bagiku, bukankah hidup itu adil??? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan aku makna keadilan.

Aku mengenal kamu dari seorang sahabat baik, bahkan sudah seperti sodara sendiri. Perkenalan kita ketika itu sama sekali tidak meninggalkan jejak mendalam bagiku semua terasa biasa saja tapi ternyata itu berbeda dengan kamu. Yang aku tau setelah pertemuan kita itu kamu perjuang untuk mencapai titik dimana hati aku menjurus ke kamu. Namun aku tau tidak semua orang cukup kuat untuk terus menerus diabaikan bukan??? Ketika aku mulai bisa menerima keberadaan kamu, ketika aku mulai ingin menata hati aku dengan kamu, ketika kehadiran kamu mulai menjadi candu tapi kamu pergi tanpa ada kata perlahan mundur.

Kamu tau ketika itu perasaanku seperti apa??? Aaahh mungkin tidak seserius kamu yang aku acuhkan berkali-kali hingga titik muakmu. Tapi sungguh aku merasa kehilangan kamu, aku sempat geram terhadap diriku sendiri mengecam sikap dan perasaan ku yang terlalu menuntut hati untuk menunggu dia yang telah lebih dulu hadir namun tak mungkin bagiku hingga akhirnya aku sadar setelah kehilangan kamu. Perubahan kamu terlihat kentara hingga rasanya aku ingin sebut kamu pemberi harapan palsu, kemarin kamu berikan beribu rasa dan perhatian lalu sekarang kamu seolah tidak ingat atau bahkan mungkin aku tidak pernah ada dalam list orang yang pernah kamu tau. Perlahan aku harus bisa menyeimbangkan perasaan aku kembali, seperti sebelumnya. Mungkin tanpa kamu lebih baik itu yang ada dalam pikiran aku. Egosi bukan??? Hahahaha lucu, marah pada diri sendiri. Entahlah  aku sempat berpikir perasaan ini sebagai obsesi belaka, lalu penasaran. Tapi aku telaah kembali perasaan ini benar-benar perasaan yang tulus, aku kehilangan kamu dan aku sayang kamu itu yang ingin aku katakan. 

Aku seperti sedang mengalami patah hati, rasanya napas ini sedikit tersendat bahkan aku merasa melayang ketika berjalan. Aaaaaahhh mungkin perasaan aku juga dicampur oleh dramatisir yang terkadang dipadupadankan dengan mood yang sering kali terkontaminasi berbagai macam hal tidak penting kemudian membuahkan perasaan yang tidak begitu baik. Mungkin seiring berjalannya waktu semua akan kembali normal perasaan aku pada kamu akan berkurang. Aku juga menanamkan satu hal "Nikmati hidup ini. Dengan perasaan apapun, ikuti semua seperti arus air, jika semesta mengizinkan pada sebuah muara kita akan dipertemukan" aku mencoba untuk itu menjalani hidup seperti hari-hari biasanya menyenangkan dengan hiasan harap terhadap kehadiran kamu, harap itu hanya sedikit. Hanya sedikit saja aku tanamkan. Dan kita seolah sepasang manusia yang kaku, seolah tak tau pernah ada keinginan dari aku dan kamu untuk menjadi kita. Sebetulnya aku pun ingin rasanya mengaku pada semesta tentang rasa ini tapi aku bukan seseorang yang cukup berani untuk itu. Memilih untuk diam sepertinya memang keputusan yang tepat.

Dan ternyata menyimpan perasaan diam-diam juga bukan perkara mudah. Kamu pasti paham dengan maksud yang ingin aku tuju. Tapi aku tidak pernah merasa menyesal, bahkan sebaliknya aku adalah seseorang yang beruntung pernah menjadi sosok yang diinginkan oleh seseorang seperti kamu yang akhirnya dibahagiakan dengan seseorang yang tepat. Selamat untuk kamu :)
                                                                          
                                                                                  ***

"iyaa. maaf ya bikin kamu nunggu. ini ada kepentingan mendadak, sebentar lagi aku kesana"

Aku pun menutup panggilan dari seseorang yang tak lain adalah sahabatku sendiri dengan jari yang masih menggenggam selembar kertas surat yang kemudian aku masukan dalam botol kaca lalu meleparkannya jauh-jauh dengan perasaan yang sulit aku gambarkan lalu pipiku basah tiba-tiba, bulir-bulir air mata itu meluncur tanpa meminta izin terlebih dahulu memaksa untuk keluar ikut mengantarkan rasa belum tersampaikan. Aku melepaskan pandanganku lurus kedepan mencapai titik akhir pantai yang menjadi tempat pertama pertemuan ku dengan sosok yang besok akan menjadi suami dari sahabatku sendiri.

Rabu, 17 Juli 2013

Hanya Sekedar ....

Aku pernah merasakan gengaman hangat seseorang yang nyata dalam anganku meski itu hanya singkat
Aku pernah melihat matanya yang berbinar walaupun itu hanya sesaat
Aku pernah mencuri tatapannya lekat-lekat meskipun itu berbatas jarak
Aku pernah mendengar parau suaranya meskipun itu samar-samar

Hanya sekedar,,
Aku pernah menyimpan harap, meskipun tak akan pernah terbalas

Lewat Tengah Malam

"jangan dulu matiin lampunya !"
"kenapa? ini udah lewat tengah malem, kamu masih aja belum tidur, aku udah mulai ngantuk nih"
"aku masih nunggu, kayanya ia juga belum tidur, kamu tidur duluan aja"
"aaaaahh asas praduga!!! siapa tau ia  udah terbang ke negeri mimpi, lagi pula dari mana kamu tau kalau ia belum tidur"
"feeling !"
"sejak kapan kamu mulai  main-main sama feeling, bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau feeling kamu itu dibawah rata-rata"
"aaahhh biarin yang jelas aku tetep mau nunggu ia sampai ia tidur"
"aneh ! kenapa ga coba kamu sms atau bbm ia aja sih"
"itu karena kita udah ga kaya dulu lagi. kamu juga lebih tau itu kan?"
"yaaah, sekedar membuktikan penasaran sama feeling kamu aja, tiap malem bela-belain begadang cuman buat nunggu orang yang belum tentu juga nunggu kamu, berharap dia ngasih kabar tanpa ada sebab. Kamu ga cape?"
"ya nikmatin aja, kamu juga ga cape berantem tiap malem sama pacar kamu?"
"hahahahha iyaa nikmatin aja juga"

Percakapan seperti ini sering kali terjadi pada pukul 12 malam lewat di dalam sebuah kamar kost yang sempit antara aku dan sahabatku. Dia dengan pacarnya memang sering kali terlibat sebuah konspirasi huru hara yang ga pernah ketemu titik akhirnya, sedangkan aku sendiri malah menjadi seorang pengharap yang tingkat harapannya mencapai titik puncak selama hampir 1th. Berharap pada seseorang yang sebelumnya pernah aku abaikan. Mungkin ini lah kuasa Tuhan akan sebuah keadilan. Hanya sekedar berharap setiap malam ia kirim sms atau bbm ga penting itu rasanya udah kaya terbang sejauh-jauhnya. Membolak-balikan halaman twiiternya atau sosial media yang lain  itu udah kaya rutinitas yang ga boleh kelewat setiap harinya. Sebelum tidur dan ketika bangun. Atau mendadak bikin personal message di bbm tengah malem karena liat ia recent semata-mata itu buat mancing ia agar bbm. Dan ga tau kenapa feeling yang buruk ini bilang ia masih sama seperti dulu, masih berharap adanya kita diantara aku dan ia meskipun itu ga sebesar dulu. Ia kecewa ya! aku tau itu.

Kila sepertinya sudah tertidur lelap. Ya bagaimana tidak dia baru saja menyelesaikan perdebatan rutinnya dengan seseorang yang disebut pacar yang sudah 6th tahun lamanya. Terkadang aku yang menyaksikan perdebatan itu merasa jengkel dan cape sendiri apalagi dia yang mengalaminya. Tapi inilah kenikmatan hidup yang sering kali kami sebutkan. Aku mengenal Kila sejak kami kuliah, 3tahun lebih. Kami dipertemukan ketika ospek, dia orang pertama yang aku lihat ketika masuk ke dalam kelas. Waktu itu Kila sembalas senyumku dengan ramah, kami pun mulai akrab lalu memutuskan untuk tinggal satu kamar kost karena kami adalah sama-sama pendatang ke kota tempat kami kuliah ini. Aku hanya memperhatikan raut lelah yang tersirat diwajah Kila. Perempuan yang kuat dan sabar :)

Handphoneku tetap saja tidak menunjukan kehadiran sms bbm atau pun yang lainnya, padahal ini sudah hampir pukul 01:30 malam. Mungkin memang sepertinya ia sudah tidur, apa sebaikanya aku juga tidur? pertanyaan itu menghampiri pikiranku. Tapi rasa penasaranku tetap tidak hilang juga.

"Ya sudahlah tidur mungkin lebih baik, siapa tau ketika bangun ada sms, bbm, atau panggilan tak terjawab dari ia. heemmm Selamat Malam"

Mematikan lampu kamar, kemudian meletakan ponsel di samping kepalaku yang bersejajar dengan kepala Kila dan ponselnya lalu pejamkan mata.

"Selamat Tidur"

Dddrrrrrrrtttttttt dddrrrrrrttttt ddrrrrttttttt dddrrrrrttttttt

Aku memaksakan bangun dari setengah alam sadarku, memaksakan bangun dari rasa kantun yang datang setelah dipejamkan. Aku meraih handphone  yang ada disamping kepalaku, ada panggilan masuk. Mataku kontan membelalak seperti akan keluar, nama yang tertera dia layar handphone itu nama ia. 3 panggilan tak terjawab. Kemudian handphone tersebut bergetar kembali ketika aku akan menekan tombol hijau panggilan itu tiba-tiba mati, kemudian LED ponsel menujukan ada sebuah pesan masuk. Tak perlu pikir panjang aku pun  membukanya.

" sayang maaf ya, tadi aku ketiduran. kamu ga apa-apa kan? pasti udah tidur ya, ya udah salamat malam :* "

Aku mulai menerka-nerka isi pesan singkat ini. Sayang??? kamu ga apa-apa??? tanda titik dua bintang???
Aku hanya diam, memperhatikan nya. Ini sms tertuju kepadaku atau salah kirim???
Aku mulai lebih seksama memperhatikan pesan itu, kemudian tersadar satu hal yang aku gengam bukan handphone milikku sendiri tapi milik Kila. Karena handphone kami sama itu membuat kami sering salah mengambil handphone masing-masing. Lalu kenapa yang keluar namanya dari handphone ini nama ia bukan nama pacarnya???

Perasaan tidak karuan mulai menderaku. Aku meraih handphone satunya lagi untuk lebih memastikannya kemudian menuju phone book untuk menyamakan no yang tertera dan ternyata. SAMA.

Aku hanya menatap pasif kedua handphone lalu melihat Kila yang lelap dalam tidurnya.

Rabu, 03 Juli 2013

Diatas Sehelai Daun Kering

Hay, aku menyukaimu.
aku sudah menyukaimu kali pertama kita bertemu, eh tidak kali pertama aku melihatmu sebagai kamu yang tak pernah kamu tunjukan pada berjuta pasang mata dimuka bumi ini.
Pertemuan kita ini takdir, atau hanya kebetulan yang menyimpan alasan untuk selalu bersama setiap waktu?
Aaaahh aku rasa, aku tak peduli tentang itu.
Aku hanya ingin menjadi bagian terkecil dalam hidupmu, tidak ingin kamu lihat dengan sepasang mata genitmu. Atau kau pikir dalam memori pikirmu yang mungkin nanti akan hilang karena serangan pikun  dikemudian hari. Tapi cukup pahami dan tersenyum namun jika kamu berkenan, bisakah kau jadikan aku ilusi dalam satu tulisan magismu. Hanya itu. Kamu boleh menggunakan daun kering untuk alasnya kemudian daun itu bisa kamu simpan dalam sebuah kotak lusuh yang kamu tumpuk dengan kenangan-kenangan manismu. Lalu pada kemudian hari kamu menemukan kotak itu, membukanya dan menemukan aku kembali disana sebagai zat yang pernah menjadi diam untuk beberapa alasan klasikmu.
                                                                                 
                                                                               ***

Aku menemukan sehelai daun kering didalam kotak kayu  disudut atas lemari bajuku setelah 8th berlalu. Aku tersenyum sendiri ketika aku membaca bait demi bait kata yang tertulis tak karuan diatas daun itu.

diam itu suara kita
diam itu bahasa kita
diam itu cara kita
diam yang mempertemukan kita

                         *
rinai hujan menyambut angin dengan suka cita
aku melihatmu tersenyum dlm kabut rintik
kita menari dengan hujan berjarak kabut
kita lekat tapi seolah enggan menjadi pekat
kita jeda yang ingkar terhadap jarak
aku menyukaimu dalam diamku.


Ingatanku melesat jauh kembali pada 8th yang lalu ketika aku tidak sengaja menemukan selembar kertas coklat bertuliskan sebuah kalimat dalam buku temanku yang membuat aku ingin menulis di atas sehalai daun kering.

Sabtu, 29 Juni 2013

Angin Kehilangan Hujan

Sunyi malam angin bergemuruh menerbangkan puingpuing rumah lumpuh. Tak ada suara yang terdengar sedikitpun kecuali bisikan angin yang mencari rintik hujan yang hilang, sesekali ia pun mengaduh dan meringgis. Angin kehilangan rintik hujan. Rintik hujan yang selalu membawakannya irama yang sendu. Sendu yang terkadang ia acuhkan dalam topan yang berusaha mengusir hujan.
Namun,
sendu itu membuat ia candu.

"bukankah semesta sering sekali memasangkan rintik hujan dengan angin? bahkan pada setiap hujan anggin selalu hadir ikut andil dalam menyatukan ketukan irama." bisik ranting pohon yang daunnya mulai berguguran pada pucuk pohon.

Angin hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. ia hanya ingin mendengar rintik hujan. Seperti seorang kekasih yang merindukan kekasihnya yang sering ia acuhkan.

Senin, 10 Juni 2013

Lelaki Itu

Siang itu aku merebahkan tubuhku pada kasur berwarnakan merah hitam yang dipadupadankan dengan corak absrak favoritku. Segala perasaan berkecamuk menjadi satu. Perjodohan. Itu yang tengah menguasai fikiranku. Cinta datang karena terbiasa itu terdengar sangat klise, tapi setidaknya hanya kata itu yang membuat aku merasa sedikit tenang. Tapi apa betul bisa semudah itu? Sedangkan aku sendiri bukan sosok wanita yang mudah jatuh cinta. Contohnya saat ini aku masih tetap setia berkutat dengan cinta pertamaku. Lekaki itu yang sudah sejak lama menjadi sahabatku dan juga mengejar cintaku satengah mati. Terlalu banyak momen yang kita lewati bersama namun sering sekali aku mengabaikan itu sampai pada akhirnya dia menyerah dan aku baru menyadari aku kehilangannya.

Sejak 5th yang lalu. Sejak dia memutuskan ikut dengan tantenya kuliah di Malaysia. Memang tak pernah terjadi pertengkaran hebat ketika itu hanya saja aku menolak dia untuk kesekiankalinya. Dan ketika esoknya aku hanya mendapatkan sepucuk surat yang isinya permintaan maaf dan ucapan selamat tinggal. Sebetulnya aku marah, kenapa dia tidak berterus terang namun aku sadar dia pasti punya pemikiran yang lain. Apalagi setelah aku menolaknya. Awal-awal kepergiannya bukan suatu hal yang terlalu buruk namun selang 1 minggu dari sana aku tiba-tiba menangis meraung sendiri. Aku kehilangan dia. Aku merindukan dia.

Itu lah manusia dia cenderung tidak peka terhadap hal-hal yang sudah menjadi keterbiasaanya, terlalu nyaman dengan keadaan hingga tak dasar ada sepotong rasa yang terbalas. Iya aku baru menyadarinya aku pun mencintai dia seperti dia mencintai aku. Meski tak sempat kata itu keluar di hadapannya. Dan sampai saat ini aku masih menunggu dia untuk kembali. Berharap dia kembali.

[  Segera persiapkan dirimu nak, untuk pertemuan nanti malam. Calon suami mu beserta keluarganya akan datang. Jangan membuat malu bapak dengan keputusanmu nanti. Bapak tau kamu pasti sudah paham apa yang bapak harapkan ]

Pesan singkat yang aku dapatkan dari bapak ku sontak saja membuat kepalaku semakin tak karuan.

                                                                                ***

Malam itu mungkin akan menjadi malam yang tersulit bagiku, sangat sulit. Ingin rasanya aku melewati saja fase ini. Tapi bagaimana dengan keluargaku yang berharap banyak pada keputusanku. Aku akan dijodohkan dengan lekaki yang tak aku kenal. Yang kata bapak adalah anak dari sodara teman lamanya bapak. Tau namanya saja tidak dan dalam pertemuan pertama sudah disebut calon suami. Oke ini bukan zaman nya siti nurbaya. Negara kita ini sudah bebas mengeluarkan pendapatnya sama hal nya dengan ini bukan? Tapi apa yang dapat aku lakukan di usia ku yang akan menginjak 30th ini. Yang setia dengan pekerjaan dan kesendirian, aku paham orang tuaku khawatir tentang itu sedangkan sodara-sodara perempuanku saja di usia 25th sudah menikah dan bahkan ada yang sudah memiliki anak.

"Indri, ayo kita keluar nak, keluarga calon mu akan segera datang"

" iya bu, sebentar lagi indri keluar"

"jangan membiarkan mereka terlalu lama menunggu ya nak"

"iya bu"

Ibu pun keluar dari kamarku, sedangkan aku masih duduk bimbang di depan cermin.
Seandainya dulu aku lebih awal menyadari perasaanku apa mungkin saat ini aku sedang berbahagia dengan sosok lelaki yang aku tunggu sampai saat ini? dengan membangun sebuah rumah sederhana di pinggir pantai dengan pemandangan yang tepat menghadap senja. lalu membersarkan dua orang anak. Lengkap sudah rasanya kebahagiaaku. Tapi bagaimanapun itu tidak mungkin terjadi. yang saat ini aku harus lakukan ialah keluar dari kamar ini lalu bertemu dengan seorang lelaki yang kan menjadi suamiku kelak. Aku yakin ini yang terbaik untukku, untuk kebahagiaan aku, untuk membahagiakan orang tuaku.

Akupun segera bergegas merapikan pakaian dan keluar dari kamar.

"terimakasih sekali pak. atas kesediaan hadirnya kemari, rasanya jadi saya yang deg deg an gitu ya"

"aaahh sama-sama pak, jangan kan bapak saya pun juga demkian. semoga saja niat baik kita semua ini di ridhoi sama Allah SWT ya pak"

"amiiinnn, nah ini pak putri saya Indri. nak ini keluarganya calon mu. Pak Gusti dan Istrinya beliau ini Uwa nya"

Aku pu memberikan salam dan senyuman khasku meskipun sedikit pilu.

"Calon mu sedang ketoilet sebentar"

"Iya pak"

Aku memang harus benar-benar melepaskan dia disini. Sekarang dan memulai lagi hidup baruku. Memulai semua dari awal, mencoba untuk lebih peka lagi. dan berusaha menciptakan perasaan yang seharusnya. Disini aku harus lebih berpikir secara logika bukan dengan perasaan. Melanjutkan hidupku yang nyata dan mengubur rasaku yang anggan.

"maaf saya membuat semuanya menunggu"

"nah, ini dia keponakan saya. Rangga Aldiputra"

Sekejap aku sadar dari lamunanku dan membalikan pandangan pada sosok yang tadi disebutkan namanya. Aku Terpaku. Mata ku membelalak seolah ingin meloncat. Lelaki itu yang duduk didepanku tersenyum hangat, nyaman, akrab. Tiba-tiba air mataku meleleh.

                                                                            ***

Lelaki yang aku lihat saat itu Rangga Aldiputra sahabatku dan cinta pertamaku, lelakipun yang kini sedang tertidur pulas disampingku  yang juga telah memberikanku dua buah hati. Lelaki yang sepertinya tuhan gariskan untukku. Menjadi satu-satunya lelaki dalam hidupku. Yang membuat aku sadar cinta itu bisa datang karena terbiasa, yang membuat aku menyesal tak peka akan kehadirannya, membuat aku paham sepi ketika kehilangannya, bahkan tetap setia berharap menunggu akan semuanya kembali lagi dan menangis haru ketika kita dipertemukan kembali.

Dan aku sangat mencintai Lelaki itu. Suamiku.

Sabtu, 27 April 2013

Sebatas Rindu


Aku rindu, rindu kamu yang setia dengan segala kekonyolanmu. Aku rindu kamu yang dulu, rindu kamu yang selalu ada untukku. Aku rindu kamu yang bodoh akan rasaku. Namun saat ini kau terasa jauh dari ku. Sungguh. Sekilas ku pandang gambar yang memahatkan kita yang tetawa lepas yang ku pajang di meja kamarku. Ingin rasanya aku putar kembali pada masa-masa itu. Masa dimana kamu selalu berikan sebagian banyak waktumu untukku. Dulu. Dan saat ini aku disini hanya sendiri ditempat kita tanpa kamu.

"hallo, dimanaaa?"
"dirumah"
"aku ditempat biasa nih"
"oh"
"rese ya,"
"sensitif deh"
"kamu kesini dong!"
"gaa ah"
"ko gitu?"
"udah ada janji"
"sama siapa?"
"pacar laah, emangnya kamu jomblooo total"
"oke, have fun"

Aku pun menutup panggilan pada sahabatku itu. Iya sahabat. Sebatas Rindu yang tak terbalas.

Siluet


Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir kami, keluh rasanya. Dia masih tetap tak menatapku bahkan bertanyapun tidak. Ini menyimpang dari keterbiasaanya. Kami diam menatap keheningan malam ini sudah sedari tadi dan memang belum ada percakapan sedikitpun yang kami lumat. Geli rasanya diam seolah bisu, aku memang tidak suka ketika di hadapkan dengan suasana seperti malam ini jauh dari kebiasaanku sehari-hari yang selalu membuat gaduh. Aku sudah beberapa kali mencoba mencairkan suasana yang ku pikir kaku, tapi dia tetap diam tak bergeming. Aku juga mencoba memutar isi otakku mengingat beberapa hal yang mungkin aku lakukan dan menjadi sebuah kesalahan.

"maaf, jika aku membuat sebuah kesalahan lagi"
"....."
"mohon jangan diam seperti ini"
"......"
"kamu marah?"

Lelaki yang sedari tadi duduk disampingku itu menggangkat tubuhnya lalu berlalu melangkah mendekatkan dirinya pada sayup-sayup sepi.

"sebaiknya kita hentikan saja tentang kita disini"
"kamu tidak salah bicara?"
"tidak, ini yang terbaik"
"yang terbaik? untuk siapa? bukankah kita baik-baik saja? aku tidak membuat sebuah kesalahan patal bukan?"
"bukan kamu yang salah, tapi kita"
"kita? kita salah dimana? salah kita saling memiliki perasaan yang sama?"
"ini untuk sulit kita, kamu harus berpikir tidak selamanya kita akan seperti ini. aku hanya siluet untuk mu"
"aku tidak masalah, aku akan berjuang untuk kita, kamu tidak usah khawatir semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan"
"tidak, kamu yang akan semakin terluka. jangan membuat sakit dirimu sendiri"
"aku bahagia dengan kita, tidak ada rasa sakit yang kamu kira"
"jangan memaksakan, ini sebuah kesalahan. kamu harus sadar dan bangun lihat kenyataan yang sebenarnya. keadaan tidak akan pernah berpihak pada kita"

Aku terisak, air mataku meleleh mungkin ini akan membanjir di setiap lekukan pipiku. Isak itu hanya ia pandang tanpa sedikitpun ia hapuskan. Dia membiarkan aku menangis dalam kebisuan. Tak ada peluk. Hanya ada angin malam yang berlarian disekeliling tubuhku membawa arus air mata yang kian bercucuran mencari muaranya. Angin itupun masih tetap setia disampingku menari-nari dilingkaran kepalaku membuat ayaunan untuk rambut ku yang terurai panjang dan membawa aku kembali ke alam nyata. Iya alam nyata dimana memang tak pernah ada aku dan dia. Dan memang tak pernah ada kita, hanya ada sisa ilusiku yang sebatas siluet !



Jumat, 26 April 2013

4jam Berlalu


"iya aku masih disini, kamu masih lama? oh iyaa ga apa-apa"

Aku letakkan kembali telepon selulerku. Mataku menerawang ke jendela disebuah cafe dipinggir pantai menembus rintikan hujan yang masih belum reda sedari tadi. Menghela napas, antara kecewa dan membesarkan hati, ini sudah kali kesekiannya aku menunggu Randi yang selalu tidak tepat waktu bahkan sering kali membatalkan janjinya untuk bertemu. Sudah 4 jam aku duduk di meja ini. Sudah berkali-kali aku melihat jarum jam yang terlingkar dilengan kiriku berkali-kali juga aku membalikan tubuhku berharap seseorang yang masuk lewat pintu depan cafe itupun dia tapi sepertinya dewi fortuna masih belum berpihak padaku padahal jarak dari tempat ia kemari hanya sekitar 1jam. Apa boleh buat ini sudah seperti menjadi keterbiasaan antara aku dengan kekasihku itu.

Jarum jam sudah menunjukan Pukul 20.15 WIB. Sudah 5 jam ia masih belum datang, perasaan sesak mulai melambai-lambai. imajenasi dan tarikan napasku sudah tak beraturan. Teburan ompak diluar sana makin memicu detak jantung semakin mempercepat, bahkan mungkin ranting pohon yang sedari tadi diguyur hujanpun kini sudah mengering. Aku masih berusahaan untuk membesarkan hatiku tetap duduk manis dengan segala hal yang berkecamuk hanya ditemani hembusan angin malam dan gelas-gelas yang berjejer rapi dimeja. Lalu tiba-tiba ada sosok tubuh tinggi tak terlalu besar dengan aroma parfum yang ku kenal memelukku dari belakang.

"maaf, sayang aku membuatmu lama menunggu,"
"............................."
"aku tau kamu pasti lebih mengerti aku"
" kali ini kenapa lagi?"
"tadi tiba-tiba dia memintaku untuk menemaninya bertemu dengan WO yang akan mengurus untuk pernikahan kami nanti"
.............................................



Selasa, 23 April 2013

Bangku Kosong Taman Kota


Disini masih sama seperti dulu 5 tahun lalu sejak aku meninggalkan kota ini. Sejak malam disini tak indah lagi. Aku memandang luas taman  yang dulu menjadi tempatku bercerita dengan seorang gadis yang tak sempat aku genggam, kenangan itu masih melekat seperti wangi tanah basah selekas hujan.Tak ku lepaskan pandanganku dari bangku yang menjadi tempat terakhir aku dengan kenanganku. Saat ini disana hanya ada sepotong ingatan dan seorang anak perempuan umur nya sekitar 4th yang sedang asik bermain sendiri. Tak bisa dipungkiri aku tersenyum melihat tingkah anak  kecil itu, senyumnya mengingatkan aku pada dia. Iya dia dan aku yang tak sampai. Anak itu terlihat kebingungan seperti sedang mencari sesuatu. Pelan-pelan aku pun menghampirinya.

" hay...."
"..............."
"jangan takut, saya bukan orang jahat, kamu sore-sore begini kenapa main disini sendiri, mana orang tuamu"
"maaf ibu saya bilang, saya tidak boleh berbicara dengan orang yang tidak saya kenal"
"anak pintar, lalu mana orang tua kamu nak?"

anak perempuan ini  hanya memandangiku dengan tatapan curiga. Dilihat dari jarak yang dekat pandangan matanya benar-benar seperti membangunkan masa laluku. Aaah mungkin ini hanya halusinasi yang terbawa suasana tempat ini. Atau mungkin karena aku sedang merindukannya. Aku tidak tau.

"ibuu..........."

anak kecil itu belari kebelakangku, mungkin menghampiri sesorang yang ia sebut ibu.

"Bella, sedang mengobrol dengan siapa??"

Sekejab aku terdiam. suara itu......
Dengan ragu aku membalikan tubuhku untuk melihat sumber dari seseorang yang ia sebut ibu itu. Dan aku seperti kembali pada 5 tahun yang lalu disana aku melihat mata yang menjadi kawan berbagi cerita malam ku. Kenanganku. Wanita yang tak pernah sampai padaku. Iya aku menemukan Ranti yang dipeluk anak perempuan itu.

Kamis, 18 April 2013

Pelukis Malam (part2)


Malam ini aku seperti biasa menunggu Ranti. Namun tak ada satupun panggilan Ranti yang aku terima, begitupun ia tidak menerima panggilanku. Aku mencoba singgah ketempat ia bekerja namun tak ada yang melihat Ranti malam itu. Entah dimana perginya Ranti. Dengan cemas aku memberanikan diri untuk datang kerumahnya hanya sekedar memastikan dia baik-baik saja.
“aaaahhhh ini gila, aku mencari seorang wanita di tengah malam seperti ini”ocehku sendiri
Aku sudah berada tepat berada di depan rumahnya. Namun aku urungkan lagi niat itu, kemudian aku tuntun kakiku menjauh dari rumah Ranti menuju persimpangan jalan untuk pulang.
                                                               ***
3hari sudah aku tak bertemu Ranti, bahkan sekedar memberI kabarpun tidak. Entah kemana perginya ia, apakah aku membuat suatu kesalahan?? Aku tidakl tau. Mungkin pertemuanku dengan Ranti memang ditakdirkan sampai saat itu saja. Di malam yang sepi ini, bulan sabit seolah memberi restu pada aku dan Ranti, itupun jika ada. langit malam ini indah bertaburan bintang dengan sinarnya seolah memberikan atmosfir. Kami duduk berdua dikursi taman kota seperti hari-hari sebelumnya, itu yang aku bayangkan. menatap langit penuh harap, sayup-sayup suara yang ku kenal terdengar melirih samar-samar namu  kiat jelas, mendekat.
"arman....."
suara itu kini sepertinya tengah berada dibelakangku. namun aku masih tak lepas dari pandangannku pada langit malam hari. suara itu tak terdengar lagi. mungkin memang itu hanya halusinasiku. Aku kembali konsentrasi menatap langit membayangkan seolah Ranti memng sedang berada disana tersentum melihatku. namun konsentrasi ku kini terganggu lagi, tapi kali ini bukan suara namun sentuhan seseorang pada bahu kananku. tangannya terasa dingin sedingin malam ini.
"arman .... "
suara itu kembali terdengar, suara seseorang yang memanggil namaku. suara yang jelas aku kenal. aku membalikan tubuhku dan aku mendapati Ranti tepat dibelakang kursi tempat aku duduk. dengan matanya yang sayu dia tersenyum yang membuat jantungku tiba-tiba berdesir hebat.
"kamu terlihat seperti melihat hantu"
aku masih diam
" sedang apa malam-malam disini sendiri?"
Ranti menghiriku dan duduk disebelahku ikut memandang langit.
" kamu masih hidup?"
"menurutmu?"
"oh kupikir kau sudah mati. terbunuh dingin"
"aku tak sebodoh mu"
Ranti tertawa
"untuk apa tertawa?"
"untuk hidupku yang memang bodoh"
aku mengalihkan pandanganku pada Ranti.
"ada apa? kemana saja?"
"ada"
"sudah tidak kerja disana lagi?"
"sepertinya tidak"
"pindah kerja? tidak malam lagi ya? selamat"
"aku juga tidak kerja siang hari"
"lalu?"
"aku ingin mendengar ucapan selamat dari mu"
"......."
"aku akan menikah"
"oh"
"besok akadnya pukul 09.00 WIB. dirumah, setelah itu aku akan pindah. kamu pasti tidak bisa datang. jelas kamu harus kuliah bukan?"
"hmmmm, iyaaa"
"tidak memberiku selamat?"
"oh, selamat yaa"
"iya terimakasih"
suasana malam ini sangat tidak didugaa. kami terdiam tak bergeming tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun kecuali suara jangkrik yang bernyanyian seperti mencuri dengar.
"dia laki-laki yang umurnya setara dengan almarhum ayahku. laki-laki itu pengunjung ditempat aku bekerja. dia sudah menyukaiku 3bulan ini. awalnya aku tidak mau. tapi ibu sudah tidak bisa lagi bekerja dia sakit. hanya aku tulang punggung keluarga"
Ranti menjelaskan panjang lebar tanpa menoleh kemanapun dia hanya luruh menatap langit.
"oh, iya"
Ranti tiba-tiba mengangkat tubuhnya dari bangku itu. Dia berdiri. tersenyum padaku. dengan pipinya yang basah oleh air matanya, aku tidak tau sejak kapan dia menangis.
"aku sepertinya harus segera pulang, Arman, terimakasih untuk selalu menemani ku beberapa malam ini, jangan habiskan hidup kamu ditepi jalan seperti ini kelak ketika kita bertemu lagi kamu sudah menjadi orang yang berhasil" dengan singkat tiba-tiba Ranti memelukku yang masih duduk. Iya dia memelukku seperti tak ingin lepas erat sekali, itu pelukan untuk pertama kali dan mungkin yang terakhir. aku tidak berbicara apapun masih diam kaku. kemudian ia melepaskan pelukkannya dan pergi melangkah meninggalkan aku dengan air matanya yang basah dibahuku.
aliran darahku tiba-tiba seperti mendidih. entah bergemuruh atau akan pecah. Menikah ! itu yang aku dengar. lelucon apa ini. Aku menatap ranti yang berjalan kemudian berlari menjauh dan menjauh. hanya tinggal aku dengan bangku kosong dan jangkring-jangkrik itu yang tak percaya dengan yang ku dengar bahkan aku belum sempat mengakatan perasaanku tapi kau sudah pergi meninggalkan aku.

                                                                  end



Sabtu, 06 April 2013

Penanti



Masih setia  berkutat dengan bisu. Hamparan biru itu masih sama tidak berubah sejak dilepaskan. Diteguk manisnya madu yang disuguhkan seorang idaman. Aaaaaaaaah siapa yang tak terbuai tutur lembut ucapan simpul dengan senyuman hangat yang tersirat jelas diwajah sang idaman. Entah palsu atau tidak, idaman itu tak kunjung datang melewati desiran angin yang tak bosan diterjangnya. Malam sudah tidak terhitung seperti barisan pohon-pohon karet yang berjajar rapi beribu-ribu disudut pantai tempatnya duduk manis. Memandang lepas pada laut yang kosong. Hanya mengenggam selembar janji yang dipahat dalam hati dan salam perpisahan. Seorang penanti.

"Hay.....
Engkau bodohkah?? Menanti sesuatu yang tak pasti !"

"tidak, aku yakin dia akan datang, seperti rasa yang selalu ia titipkan pada angin laut malam hari"

"tidak kah kau berpikir, idaman mu sedang tertawa bahagia disebrang sana dengan pelitanya sekarang?"

"tidak, aku yakin dia sibuk dengan tugasnya untuk membawa aku tetap berada disampingnya selamanya"

"dari mana kau tau?? bahkan bertukar kabar saja kalian tidak pernah?? jangan bodoh "

"aku tau dari langit yang selalu menyampaikan pesan-pesan ku dengan dia lewat sinar bintang, dan dari hati yang tidak bisa dibohongi. Aku mencintai dan menyayanginya tulus, dia akan merasakannya disana"


Hati yang tak bisa dibohongi, tulus.......

Senin, 25 Maret 2013

Pelukis Malam (part1)


Berbagai macam kendaraan berlalu lalang, lampu-lampu jalan bersinar redup-redup terang sebagai menerangan dikota yang penuh sesak dengan berbagai suku yang datang. Angin dinginpun merasuk dalam tubuh yang memang tidak gemuk ini. Dengan gitar lusuh yang aku lingkarkan pada bahu dan pinggang, aku menelusuri setiap jalanan yang ada dikota ini. Bergegas berlari mengejar bis-bis yang melintas. Aku petikan senar gitar yang selalu ku bawa sembari mengalunkan sebuah lagu dari penyanyi ibu kota. Recehan yang aku dapatkan dari setiap menumpang yang ada menjadi penolong bagi hidup ku saat ini. Sebut saja namaku Arman. Aku hanyalah seorang pengamen jalanan pada malam hari. Aku memakukan pekerjaan ini sudah sejak 2th terakhir. Ini aku lakukan untuk menghidupi diriku sendiri dikota yang jauh dari orang tua. Pada pagi dan siang hari aku melakukan kewajiban utamaku sebagai seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi negeri. Aku mendapatkan beasiswa. Hidup dikota orang dengan seorang diri itu tidak mudah. Kedua orang tuaku sudah tidak mampu membiayai untuk hidupku disini jangankan untuk membiayai hidupku untuk mereka makan pun ayah harus bekerja keras, kami memang bukan keluarga yang digolongkan mampu. Bapak ku pun hanya seorang pemulung botol-botol plastic. Karena itulah malam hari aku berprofesi sebagai pengamen, meskipun pendapatannya tidak seberapa tapi ini cukup untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 04.30 WIB. Aku harus segera pulang pagi ini ada kuliah pukul08.00WIB. aku laju kakiku menuju sebuah gang yang tidak terlalu besar. Gelap.
“baru pulang man? “ sapa seorang bapak yang tinggal tidak jauh dari tempat kost ku
“iya pak,  udah mau subuh”
“ga kemesjid dulu?”
“mau pulang dulu pak, mau mandi kan tidak enak masuk mesjid bau asem keringet”
“oh ya sudah, bapak kemesjid duluan ya”
Pak Natno pun berpamitan dan segera beranjak dari tempat kami bertegur sapa
Aku kembali melangkahkan kakiku menuju kost. Namun baru 2 langkah aku berjalan aku terhenti karena sosok wanita yang ada dihadapanku. Wanita dengan perawakan tinngi kecil, putih, berambut hitam sebahu, mata sipit kecoklatan, hidung mancung. Wanita itu melihat kearah ku. Wanita yang baru-baru ini pernah aku temui dari jarak yang dekat.
                                                                                ***
Malam itu perutku terasa sangat lapar, aku memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah warteg yang ada disamping terminal yang baru saja aku jelajahi. Disana terlihat ada beberapa orang bapa-bapa yang sepertinya  supir bis dan kernek-kernek nya. Perut lapar itu ku isi dengan nasi putih dan telor rendang yang dipadukan dengan the panas. Lega rasanya jika perut sudah di isi, itu artinya aku bisa melanjutkan pekerjaanku kembali. Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang mengenakan rok mini dengan hak tinnginya berjalan mendekati warteg itu dengan sedikit tergesa-gesa.
“ehm , hey cantik mau kemana neng malam-malam begini? Mau nemuin abang yaa?” celetuk seorang bapa yang ada dihadapanku, ketika wanita itu mulai ada di dekat warteg. Wanita itupun hanya melirik sibapa dengan pandangan tak suka.
“kenapa neng? Ko jutek gitu?jangan takut ga dibayar, saya bayar deh kalau mau “
Wanita itupun masih tidak menjawab dan mulai melangkahkan kakinya
“alah, sok jual mahal lu, cewe ga bener aja belagu. Lu pikir gua ga mampu bayar lu”
Langkah wanita itupun terhenti
“maaf ya, sepertinya anda salah paham sekali, saya bukan  wanita seperti  yang ada pikir”
“hah, jadi lu wanita baik-baik? Mana ada wanita baik-baik tengah malam gini masih bersiliweran pake rok mini. Mau manggal dimana lu?” Tutur sibapa yang satunya lagi
Terlihat jelas amarah wanita itu mulai terpancing, aku segera membayar makan pada pemilik warteg, tanpa basa-basi dan entah kenapa aku langsung menarik tangan wanita itu. Membawa dia pergi dari tempat itu.
                                                                                                ***

Wanita itu masih berada ditempatnya, masih melihat kearah ku. Tanpa aku pedulikan aku melanjutkan lagi langkahku. Semakin dekat dan semakin dekat, aku melewatinya dan dia tiba-tiba ia memanggilku.
“arman, “
Aku menghentikan langkahku tanpa menoleh, dari mana dia tau namaku, karena ketika malam itu, aku hanya menolong dia menghindarin percekcokan dengan para bapa-bapa itu tanpa memberi tahu  siapa namaku, meskipun aku tau namanya Ranti. Jauh sebelum kejadian itu aku sering secara tidak sengaja melihat Ranti pulang selarut itu, karena jarak tempat tinggal kita yang ternyata tidak begitu jauh. Aku mengetahui nama dia dari penjual sate yang sering nongkrong depan gang kostku.
“kamu arman kan?” perjelasan Ranti
Aku pun membalikan badanku melihat Ranti.
“iya, ada apa?”
“terimakasih, aku Ranti” sembari mengulurkan tangannya dangan senyum manis dibibirnya yang munggil.
                                                                                                ***
Sejak saat itu, aku dengan Ranti menjadi sering bertemu, aku bahkan selalu Menjemput Ranti ketika dia pulang bekerja. kita saling bertukar pikiran dan bercerita banyak hal, jujur saja meskipun aku sudah tinggal dikota ini hampir 4th tapi aku masih belum menemukan lawan untuk bertukar pikiran yang pas, ah mungkin saja karena aku juga seorang pengamen jalanan yang keluyuran malam-malam jadi orang-orang enggan berteman terlalu dekat denganku, tetapi mungkin juga aku yang minder dekat dengan mereka. Ranti pun juga bercerita tentang dia yang ternyata bekerja disebuah club malam sebagai pelayan. Dia berusia 1tahun dibawahku. Dia harus bekerja untuk menghidupi seluruh keluarganya, ayahnya meninggal ketika dia kelas 12SMA. Ibu nya hanya buruh cuci keliling yang sudah mulai sakit-sakitan, sedangkan adik-adiknya masih sangat kecil-kecil. Mau tidak mau Ranti harus berjuang untuk kebutuhan keluarganya, menjadi tulang punggung keluarga karena dia adalah anak sulung. Ranti wanita dengan berparas cantik dengan kulit putih, bibir yang munggil, hidung yang mancung, mata yang sipit dan rambut yang indah. Siapa yang tak suka dengan wanita ini. Namun siapa juga yang mengira hidupnya seberat ini. Jujur saja aku merasa iba, dia harus bekerja ditempat yang seperti itu yang dimana seperti yang Ranti ceritakan tidak sedikit pria hidung belang yang berkunjung kesana dan minta ditemani ini itu. Tempat yang dipandang kurang bagus untuk seorang wanita yang baik-baik.
Sepulang Ranti bekerja, sekitar pukul 03.00 WIB. Aku dan Ranti duduk disebuah bangku taman kota.
“man, gimana hari ini banyak dapet duitnya?”
“aah ya begitu , ga jauh beda sama hari-hari biasanya”
“kamu kenapa ga nyoba nyanyi ditempat aku kerja aja, suara kamu bagus. Dan bukannya gajinya lebih banyak dari pada mengamen”
“gak ah ti, aku lebih suka ngamen aja”
"tapi bukankah penghasilannya tidak seberapa tapi kamu harus berlari sana sini untuk mendapatkan bis yang juga hanya sesekali datang."
"ya itulah ti bedanya,aku lebih menikmati ini semua. ada kepuasan sendiri yang aku rasakan"
sebelum menjadi seorang pengamen aku pernah ikut teman kampusku membentuk sebuah group band tapi ternyata tidak berjalan sesuai kenyataan menyatukan beberapa kepala menjadi satu itu tidak mudah. aku harus bisa mengatur waktu untuk kuliah dengan bermain band. jujur saja aku tidak mau kuliahku keteteran.
"hidup itu tidak selamanya kita harus megejar kenikmati duniawi kan ti?"
sahutku pada Ratni yangt sejak tadi diam mendengar ucapanku.
"ti, kamu kenapa  ga kerja sambil kuliah saja? bukannya waktunya nya ada. seperti aku ini siang ya kuliah malam ya bekerja. walaupun sebetulnya aku lelah"
Ranti tertawa melirik kearahku
"uang dari mana man? untuk biaya hidup aja aku harus melaukan pekerjaan samapi selarut ini"
Sebetulnya aku mengerti dengan apa yang Ranti katakan. ya begitulah hidup terkadang tidak semuanya bisa sesuai kenyataan. Apa yang kita harapkjan justru sangat berbanding terbalik dengan kenyataanya. Namun dengan bersyukur semuanya akan lebih mudah untuk dijalani.
Kami pun terdiam dalam keheningan malam itu, sesekali aku menatap Ranti yang menutup mata sambil menghirup udara dingin malam ini. Ranti yang beberapa waktu ini selalu ada dalam hari-hariku. Ranti gadis malam yang selalu tersenyum simpul. Ya Ranti Wanita yang terkadang membuat jantungku berdegup kencang.

Kamis, 21 Maret 2013

Dinda (Part2)


Handphone ku terus saja berdering itu panggilan dari Rial namun tak juga aku jawab, jujur saat itu aku tidak bisa berpikir jernih, selama 6th ini Rial terlihat sempurna dimataku tanpa sedikit cacatpun dan sekarang aku mendapati sebuah pertanda bahwa dial tak sesetia yang aku pikir.  Dan ketika dia berusaha menemui aku, aku enggan untuk bertemu dengannya. Ini seperti bukan aku. Tapi feelingku mengatakan ada sesuatu yang dia sembunyikan padaku.
                                                                                                ***
Malam itu aku memutuskan untuk pergi ke rumah intan, karena Lisi sedang tidak ada dirumah dalam keadaan pikiran kacau seperti ini menyendiri bukan jalan yang baik. Aku mencoba menghubungi intan terlebih dahulu memastikan bahwa dia ada dirumah namun dia tidak menjawab panngilanku, bahkan bbm yang sedari tadipun belum dia baca, mungkin dia sedang tertidur karena dia memang seperti itu. Aku pun mulai menyusuri setiap jalan sendiri menuju kediaman sabahatku itu. Setibanya didepan rumah dia, pintu rumah nya tiba-tiba terbuka dan keluarlah intan dengan sosok seorang laki-laki yang sangat akrab aku kenal. Mereka keluar melewati pintu rumah itu sembari tertawa dan tidak sadar akan keberadaaku. RIAL ! ya laki-laki itu Rial.  Aku menatap mereka tajam diam tak percaya. Secara tiba-tiba hatiku seperti dihantam batu besar, lemas, sesak. Ya itu yang aku rasakan. Melihat Rial kekasihku yang keluar dari rumah sahabatku dengan tertawa riang padahal dia tau keadaan aku sedang seperti apa. Aku terus menatap mereka dengan tidak percaya. Sampai pada akhirnya mereka sadar akan keberadaanku disana. Intan kemudian mendekat, aku tau dia terkejut.
“Dinda, sejak kapan lo disini?”
Emosiku pun meledak.
Aku dengan seketika menampar intan, Rial pun mendekat tidak percaya.
Aku kehilangan kendali, aku marah, aku kecewa,  aku sakit hati Rial dengan Intan sahabatku. Apa yang Rial lakukan disini malam-malam begini? Tertawa bersama intan? Ini alasan intan tidak membalas pesan singkatku dan tidak menerima panggilanku???? Kenapa harus Rial dan Intan??????? Ada apa dengan ini semua??? Kenapa mereka harus terlihat berada berdua dalam kedaan yang sepeti ini????? Semua pertanyaan berkecamuk menjadi satu, aku marah dengan menangis tersedu-sedu. Aku pun melihat intan dengan tangisnya, tapi apa dia tau sesakit apa aku sekarang. Dan Rial, dia yang hanya menatapku. Tapi  kenapa harus intan????
                                                                                                ***
Pagi ini dikampus tanpa ada yang bertanya padaku dimana intan, karena seperti yang mereka tau dimana ada intan disitu ada dinda. Tapi pagi ini dikelas hanya ada aku tanpa intan. Sepanjang perkuliahan aku hanya melalun masih tidak percaya dengan kejadian-kejadian yang aku alami beberapa hari ini. Dan saat itu aku berpikir seandaikan malam itu aku dan Rial tidak datang ketempat itu, seandainya aku tidak bertemu dengan orang itu seandainya aku tidak datang kerumah intan seandainya seandainyaaa aaahhhhh pikiranku makin kacau, lamunan kacauku pun terhenti oleh suara Ari yang memberikan buku yang waktu itu aku titip. Lalu kemudia dia pergi. Aku menatap Ari dari belakang.
Tiba-tiba aku mendapati di handphone ku sebuah pesan dari Rial
Rial : aku mau kita ketemu sore ini, aku jelasin semuanya. Kamu ga bisa terus-terusan ngindar kaya gini. Kita ketemu di bukit itu jam5.
Aku hanya bisa menghela napas.
Kemudia handphone ku pun menunjukan signal keberadaan 1 pesan lagi
Intan : apa yang kamu lihat belum tentu yang sebenarnya !!!!
                                                                                                ***
Dalam  perasaan ragu aku menunggu Rial di tempat yang dia janjikan. Disini semua akan ditunjukan kebenarannya, kenyataan bahwa Rial telah curang, dan Intan telah betul-betul membuat aku kecewa. Bagiku ini adalah penghianatan besar-besaran. Kekasih dan sahabatku membuat lingkaran dalam lingkaranku sendiri. Jujur aku sulit menerima ini semua. Aku belum siap. Aku menghela napas panjang sebagai kode bahwa aku harus kuat aku bisa.
Terlihat dari kejauhan Rial sedikit   menghampiriku, ya saat melihat dia hati ini juga berdebar dengan kecangnya namun berbeda dengan ketika saat kita pertama memutuskan untuk menjalani sebuah hubungan. Berdebarnya jantung ini sakit sekali. Dia menghampiriku dengan tersenyum. Dan aku hanya terus menatap dia. Aku menatap dia dengan mata yang terlihat sangat kecewa, ini pertama kalinya Rial membuat aku menangis. Kemudiaanf langkah Rial yang menghampiri aku diikuti seorang wanita yang aku sangat kenal, iya kenal sekali.
“Adinda” sahut Rial
Aku tetap diam
“Jika ada seseorang yang harus kamu caci maki, itu adalah aku, jika ada sesorang yang harus kamu tampar itu aku, jika ada seseorang yang melukai hati kamu itu juga aku dan jika ada seseorang yang harus kamu benci itu adalah aku. Aku minta maaf, aku curang”
Sedikit demi sedikit air mataku pun turun juga padahal aku sudah berusaha susah payah untuk menahannya. Bukan ini yang ingin aku dengar, bukan mengakuan ini. Aku ingin kamu bilang tidak , ini salah paham Dinda. Aku ingin kamu ucapkan itu. Aku diam tak bertanya, aku takut kamu menjelaskan karena aku takut itu benar. Aku takut kamu yang bagiku sempurna malah menjadi orang yang benar-benar membuat aku kecewa dan menjadi orang yang aku benci. Aku takut kehilangan kamu Rial . aku mencintai kamu, tapi kenapa harus begini, dan kenapa kamu menggenggam tangan wanita yang ada disampingmu itu . Ucapku dalam hati sambil terus menatap Rial dengan air mata yang ikut mengalir. Ini lebih sesak, ini lebih sulit dipercaya, aku betul-betul ingin menjerit sekuatnya mengeluarkan rasa sakit ini. Apakah harus sesakit ini?? Kenapa kenapa harus begini??? Ada apa ini????
“Adinda, bukan intan. Tapi Lisi . wanita itu Lisi”
Ini pernyataan yang betul-betul tidak aku bayangkan sebelumnya. Wanita itu Lisi. Lisi sepupuku yang sudah seperti adik kandungku. Lisi yang tinggal bersama ku. Seperti tiba-tiba tersambar petir aku dapatin seorang wanita disamping Rial digenggam erat dan itu Lisi. Bukan intan. Lisi orang yang tidak aku duga sama sekali .
                                                                                    ***

Hembusan angin itu membawaku kembali kealam sadarku. Masih ku genggam kebaya itu.  Masih tetap menatap langit. Tiba-tiba suara pintu kamarku terbuka, itu Intan yang pernah menjadi sasaran salahku yang sedang dipenuhi emosi dulu.
“ Selamat yaaaaaa” tutur Intan sambil memelukku
“Terimakasih ibu Intan Putri Pribowo”
“Kebayanya bagus, pasti lo keliatan cantik deh besok”
Kebaya itu akan aku kenakan besok. Dihari pernikahan tapi bukan pernikahanku melaikan pernikahan sepupuku Lisi dengan dia cinta pertama dan pacar pertamaku Rial.  3 tahun sudah sejak kejadian itu mereka memutuskan untuk menikah. Siapa yang sangka secepat itu. Bahkan aku melupaka itu semua tidak mudah. Tapi aku yakin ini yang terbaik untuk kita semua.
Lalu bagaimana dengan aku???

Dinda dinda dinda dinda dinda
Terkadang aku membisu dalam setiap cakap yang keluar dari bibir mungilmu
Aliran darahku bergejolak ketika aku menatap lekat senyumanmu
Bahkan terkadang ada cemburu yang membara ketika melihat kamu dengan dia
Kau inpirasi bagiku
Namun
Aku hanya pengagum dekatmu yang terlihat jauh….

Itu adalah sebait puisi yang aku temukan dalam buku yang pernah aku titipkan pada Ari. Ya ! saat ini aku sedang menjalin hubungan yang cukup serius dengan Ari. Seseorang yang dianggap kaku bahkan bisa menjadi seseorang yang mengagumiku teramat sangat. Ternyata Ari berbeda dari yang selama ini orang kenal, dia adalah pribadi yang sangat menyenangkan. Maka, mungkin dari ini lah aku harus belajar untuk lebih mengenal karakter seseorang. Alasan Rial curang padaku dulu juga katanya aku yang tidak bisa memberi waktu luang lebih banyak, karena aku lebih focus mengejar targert belajarku, sedangkan Lisi dan Rial ternyata memiliki beberapa kesamaan mungkin dari sana mereka merasa saling nyaman dan bisa saling mengisi satu sama lain. Seperti saat ini aku dengan Ari yang sama-sama sedang mengejar target kita. Ari saat ini sedang melanjutkan S2 nya di Jerman dia dapat beasiswa. Dan dari kabar yang baru aku dengar dia akan Slangsung ditarik oleh sebuah perusahaan terkemuka disana. 1 bulan dari pernikahan Lisi dan Rial besok aku dan Ari akan melangsungkan pertunangan terlebih dahulu. Dan disini aku belajar untuk lebih peka terhadap orang-orang disekitarku. Hidup siapa yang tau.
                                                                      ***

Dinda (Part1)


Sore ini hujan turun dengan derasnya, aku duduk termenung didepan jendala kamarku menatap kosong kearah luar yang sesekali aku lihat kebaya warna gold dengan payet payet indahnya yang aku genggam. Perasaan bahagia dan sedih berkecamuk menjadi satu. Suara gemercik hujan membawa aku kembali pada masa itu, masa dimana aku harus mempertanyakan sebuah kejujuran.
Siang itu diperpustakaan kampus aku sedang berdiskusi dengan seorang sebut saja dia Ari mahasiswa yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya. Dia adalah mahasiswa cerdas di jurusan kami saat itu, beruntung nya aku bisa satu kelas dan sering-sering berdiskusi dengan dia. Padahal bisa dibilang kami tidak terlalu dekat, ketika berdiskusipun tidak ada topik lain yang kami bahas selain tentang mata kuliah, walaupun sesekali kami juga membahas beberapa movie yang ceritanya bias dikatakan bagus. Pria berkacamata dengan penampilan sederhana ini pun terkenal tidak banyak bicara bahkan cenderung kaku. Maka dari itu sahabatku Intan paling malas ikut serta dengan kami untuk memebahas beberapa pelajaran yang aku rasa tidak begitu aku mengerti. Intan lebih memilih untuk makan dikantin . Sabahatku yang satu itu memang sedikit pemalas tapi dia cukup membuat beberapa pria  terpesona. Kami bersahabat sejak duduk dikelas 6 SD saat itu dia murid pindahan. Dari sana hingga sekarang pun kami masih tetap satu sekolah dan satu Universitas. Bisa dibilang dimana ada Intan disitu ada Dinda tapi tidak ketika aku sedang membahas pelajaran. Intan itu memiliki daya tarik yang cukup kuat menurutku, bagaimana tidak dari pertama aku kenal intan sampe sekarang aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa banyak laki-laki yang pernah menjadi pendampingnya. Oke bisa dibilang dia itu playgirl. Beda dengan aku yang telah menjalin sebuah hubungan selama kurang lebih 6th dengan Rial teman sekelas ku waktu mulai masuk ke SMA. Walaupun sekarang aku tidak satu Universitas lagi dengan dia, tapi hubungan kami berjalan cukup baik. Tidak banyak pertengkaran yang terjadi. Bahkan Rial itu tipe seorang laki-laki yang penyabar dan tidak banyak menuntut dan dia adalah cinta pertama dan pacar pertamaku. Itu lah sebabnya aku sangat mencintainya, dimataku tidak ada seorang laki-laki yang sempurna dalam hidupku selain Rial  terkecuali Papah.
“Nah jadi ketika sebuah perusahaan memiliki manajemen sumber daya manusia yang buruk maka perusaan itu harus siap ketika produk yang mereka produksi pun tidak sesuai harapan” jelas Ari padaku, yang hanya mangguk-mangguk tanda mengerti.
Terdengar suara dering handphone ku, yang tertera dilayar adalah LOVE ,
“Hallo yang “
“Kamu udah selesai kuliah yang ? Aku di depan kampus kamu nih. Pulang yuk “
“Ya udah kamu tunggu sebentar ya” telpon pun diakhiri.
Sudat mataku sedikit melihat ari yang tengan memuliskan sesuatu disecarik  dikertas putih.
“Ari, besok dilanjutin lagi ya belajarnya, aku udah dijemput nih, maaf ya jadi sering ngerepotin kamu”
“Iya gapapa din, duluan aja masih ada yang mau aku cari diisini ”
Setelah merapikan buku-buku dan alat tulis,  aku langsung berpamitan pada Ari dan meluncur kedepan kampus menemui pangeran semata wayangku itu. Ternyata disana sudah ada Intan yang terlihat berbincang dengan Rial seperti biasa obrolan yang selalu mereka bahas adalah lempar umpatan pada satu sama lain. Aku bahkan lebih melihat mereka seperti tom and jery.
“Dinda, lo nemuin makhluk ini dimana sih, harusnya ya lo tuh musiumin dia bukan lo jadiin pacar” sahut intan mencari pembela.
“Alah, kalian tuh sama aja berisik tauuu” jawab ku santai. Sedangkan rial hanya tertawa cekikikan melihat tingkah laku sahabatku itu.

                                                                                                ***

Malam ini adalah malam peringatan aku dan Rial yang ke 6th. Yaa hari ini genap hubungan kami menginjak tahun ke6. Aku pun mulai bersolek dengan bahagia. Rencananya kami akan makan malam bersama entah dimana itu tapi yang pasti rial selalu memberika kejutan—kejutan istimewa yang tak terduga untukku.
“Lisiiiiiiiiiiiii” teriakku memanggil sepupuku yang tinggal serumah bersamaku, usia doa 2 th dibawah aku. Kami kuliah di universiyas yang sama tapi berbeda jurusan, dia sudah tinggal bersama dengan aku mamah dan papah sejak dia masih duduk di kelas 12 SMA. Karena orang tua dia yang dipindah tugaskan ke Dubai maka dia lebih memilih tinggal bersama aku disini. Dia adalah tempat ceritaku setelah Intan, terlalu banyak kesamaaan antara aku dengan lisi, bahkan mimic wajah kami itu mirip, meskipun postur tubuh lisi lebih kecil dari aku.
‘Iyaa, iyaa kaaaa”
“Gimana? Aku udah cantik belum? Haduhh nervous nih. Kira-kira Rial bakal ngasih aku kejutan apa lagi ya??”
“Ngajakin tunangan kali ya kaa”
“Tunangan? Mana mungkin, kuliah aja kita belum selesai”
“Yaelah kaa, apanya yang ga mungkin, nunggu apa lagi coba?”
“Iya sih ya? Tapi masa sih”
Dengan senyum-senyum bahagia aku sudah membayangkan bagaimana kalau apa yang Lisi katakan itu benar, lengkap sudah kebahagiaan ini. Tidak lama kemudian Rial datang menjemputku, kami pun segera meluncur ke tempat yang kami tuju. Ternyata dia membawaku ke tempat dimana pertama kali dia dan aku meresmikan hubungan kami, sudah lama rasanya tidak datang ke tempat ini. Sebuah tempat yang berada diketinggian yang dimana disini bisa melihat sinar lampu-lampu kota dan juga jajanan tradisional dengan music akustik dari alat-alat bekas  yang aku rasa ini cukup romantic, aku hanya tersenyum tersipu dengan bahagia. Satu kata yang aku rasakan pada malam itu bahagia.6th sudah aku melewati berbagai macam hal dengan Rial, tawa canda sedih kecewa haru bahagia, rasa toleransi, perhatian pengertian,kepercayaan dan kejujuran. Aku pun duduk disalah satu bangku yang disediakan memang, bukan dengan makan malam yang mewah ditempat mewah tapi ini lebih dari sekedar menyenangkan. Aku dan Rial sangat menikmati malam itu memandang hiruk pikuk kota dengan hanya segelas jeruk hangat dan mie tektek favoritku, untungnya aku tidak berpakaian yang berlebihan. “ feeling feeling feelingku kuat “ sahutku dalam hati.
“Sederhana tapi berarti” ucapku pada Rial
”Makasih ya buat semuanya selama ini, terimakasih dinda kamu telah memberi hari-hari ku tidak membosankan dengan adanya kamu”
Aku hanya menatap Rial dalam dengan senyuman khasku.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 22.15 WIB aku dan rial pun segera beranjak dari tempat itu, Rial mendekati seorang bapa untuk membayar apa yang tadi kami makan, dan aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungku
“hey nona rial, kemaren kemana ko pulang duluan”
Aku menatap tajam pria itu, pria yang tidak aku kenal. Aku hanya diam tak menjawab mungkin dia salah orang pikirku,
“Eh, gue salah orang ya?? maaf ya”
Aku hanya tersenyum simpul. Kemudia dia mendekati Rial yang saat itu masih tidak sadar dengan keberadaan pria yang menyebutkan salah orang padaku tadi.
“Yal, itu siapa? Yang kemaren mana?” bisiknya yang tidak sengaja aku denngar karena aku cepat-cepat mendekat.
Rial hanya menepiskan pria itu.
“eh bro udah lama ya kita ga ketemu” sahut rizal pada pria itu. Dan tiba-tiba si pria itupun membalas ucapan rizal seolah mengiyakan. Aku melihat wajah rizal yang tiba-tiba sedikit diam.
Dia pun segera berpamitan dengan orang itu dan mengajak aku segera beranjak dari tempat tadi. Sepanjang perjalanan pulang tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, berbeda dengan Rial yang terus berbicara panjang lebar entah apa yang dia bicarakan saat itu, karena pikiranku masih terpenuhi dengan kata-kata yang diucapkan pria itu.
                                                                                                ***
“Hey nona Rial, kemaren kemana ko pulang duluan”
“Yal, itu siapa? Yang kemaren mana”
Semua perkataan itu masih sangat jelas ditelinga dan pikiranku. Siapa laki-laki itu, setelah 6th aku berhubungan dengan Rial tapi kenapa aku tidak mengenal pria itu. Apa maksud nya? Apa mungkin Rial dibelakangku membuat sebuah kecurangan? Selingkuh???? Pikiranku terus menerka nerka sampe pada akhirnya Intan menyadarkan aku dengan teriakannya.
‘Lo tuh ya gue ajakin nngomong malah bengong, capedeh abangnya” gerutu Intan kesal.
Aku hanya tetap mamandang kosong pada intan.
“Tan menurut lo Rial itu gimana?”
“Lo kenapa sih?”
“Jawab aja dulu, Rial tuh gimana?”
“Rial cowo lo? Oke dia ganteng, tajir, bodynya oke. Ga bego-bego amat juga, dan punya daya tarik. Walaupun emang rese sih tapi ya kalau gue bukan teman lo bisa ada kemungkinan tuh gue suka sama dia hahahahahha”
“Terus menurut lo, dia ada bahan buat selingkuh ga?”
Intan menatap ku “ Ya klo menurut gue setiap orang itu bisa aja sih selingkuh ga menutup kemungkinan toh juga para uztad banyak yang istrinya lebih dari 1 iya ga, lo ko nanyanya kaya gitu Din, knp? Rial selingkuh?“
Aku terdiam ejenak. kemudian menceritakan apa yang terjadi pada intan tadi malam. Jelas dia syok tak percaya, karena selama ini Intan tau kalau Rial itu tidak pernah melakukan hal-hal yang membuat aku kecewa bahkan segalanya Rial lakukan untuk ku. Dan dia memberi aku nasihat untuk bertanya pada Rial tentang masalah yang menggangu pikiranku ini.

Selasa, 12 Maret 2013

Teruntuk Tanpanama :

         kita yang berdampingan namun tak berpandangan
Aku mengenalmu lewatin waktu dan keterbiasaan, tak terpisah jarak, tak terbayangkan dan tak semudah yang mereka pikirkan. kamu menganggapku ilusi namun aku penikmat ilusi itu, tak sejalan dengan kenyataan. kamu menyelinap ke dalam hati yang ingin aku tutup rapat ini, kamu merasuk tanpa aku sadar, kamu benar-benar buat aku terbuai. Kamu yang tak terduga mengisi relung ini dengan rapi berada di dalamnya. Kamu pengagumku yang nyata tapi aku mengagumimu lewat diam. Mungkin kita sejalan tapi kita tak saling berpandangan, diam ku punya arti, diam yg tak sekedar yang kamu lihat.


Bahkan ketika kamu putuskan untuk tak berdampingan lagi, kamu menyerah??? Yaa aku tau! Sedikit sesak. Aku hanya bisa menghela nafas. Sedih ! Kamu tau ketika prinsip dan perasaan itu tidak sejalan? Ya keduanya bergemuruh saling berebut posisi. Dan itu karena kamu. Kamu yang saat ini hanya terlihat di hati dan pikiran ini. Kamu yang terlihat namun kamu yang sulit aku raih dan bisakah kamu sedikit sabar untuk tetap berada disini disampingku seperti dulu, ya dulu ………………………



                                                                                                                                       Secret admire ,