Senin, 05 Januari 2015

Taman Bermain



Rasanya nyaman, menyenangkan, menenangkan, dan kepuasan aku dapatkan disini. Ditempat dimana aku menjadi sebebas burung yang terbang tanpa batas. Menyentuh butiran awan yang menguap untuk dijatuhkan menjadi hujan. Menembus gumpalan-gumpalan kapas kolumunimbus yang mulai berubah warna menjadi orange kemerahan. Menyusuri dinginya embun dipagi hari yang merapat pada ranting dedaunan. Menghirup wangi tanah basah karena disetubuhi air hujan. Mendengar bebas nyanyian ombak yang berulang kali menjatuhkan diri dengan sukarela pada tepian laut. Sebebas itulah aku hidup pada taman bermain ini. Taman yang sudah sejak usia dini aku kenal, yang sudah seperti tempat untuk pulang. Berulang kali nama telah ia perkenalkan datang dan pergi pun kadang menetap memberi senyuman dan kesakitan. Taman yang membuat aku menjadi segala yang aku inginkan, menjadi sesosok hidup yang sempurna, menjadi pesakitan tiara tara, menjadi pribadi paling bahagia bahkan menjadi wanita egois seketika dan tidak jarang menjadikankan manusia paling beruntung sedunia. Aku tetap menjadi aku disana, tertawa lepas ketika aku bahagia dan menangis tersedu ketika aku mulai terluka dan disini aku tidak mengenal apa itu sepi. Taman bermain ini telah memberikanku sebuah penghargaan atas diriku sendiri dan taman bermain ini yang telah memberikanku sebuah karya terpendam. Taman bermain yang saat ini membuat aku merasa sedikit takut namun enggan aku lepaskan dan sulit untuk dilepaskan yang bernamaMaladative Daydream” 





Selasa, 07 Oktober 2014

Ruang Kosong

Masih didalam ruang kosong lembab dan membuat pengap sebuah penantian yang tak berujung tetap menjadi kekuatan kesialan yang dinamakan penyesalan. Tak ada yang berarti disini hanya terus menerus menghirup puing-puing dosa yang menggerogoti keyakinan. Bukan karena ia tak memiliki iman, hanya saja harga dirinya terlalu mahal bahkan untuk membayar senyum di bibirnya pun ia enggan. Ia hanya berharap ada keajaiban datang tiba-tiba bak malaikat pelindung yang turun dari kayangan. Ia tak ingin satu orangpun masuk dalam ruangan itu, ia selalu mengunci rapat-rapat, ia tak pernah keluar atau mungkin dia lupa jalan keluar dan tersesat. Yang ia inginkan hanya suatu omong kosong yang disebut masalalu. Manusia macam apa yang berharap pada tuhannya agar ia kembali pada masalalu. Dunia ini seperti permainan bodoh yang ia anggap mudah sedangkan ia sendiri hanya meratapi diri pada keangkuhan yang ia buat.  Ia menangis, merintih, menjerit dan terkadang menahan kenikmatan bernama luka. 

Selasa, 08 Juli 2014

Dua Bom Waktu

Masa Lalu

Seharusnya saya tidak disini sekarang, tidak dimana hati dan pikiran saya tertuju, tidak didalam bayang-banyang yang selalu ingin saya buang jauh-jauh, tidak untuk kembali pada masa lalu. Namun pada kenyataanya serangan itu menyerang. Seharusnya pula saya tidak menulis surat ini, untuk apa bukan kah sebelumnya mengingatnya pun saya tak mau, namun sekarang tanpa saya ingatpun semua kembali pada titik awal. Kamu yang saat ini tengah menenguk manisnya  kasih sayang  dari sosok yang baru mungkin hanya berpangku tangan  setelah semua pernyataan yang kamu utarakan. Tapi saya menahan goresan kritil tajam disini. kamu seharusnya lebih peka kamu bilang kamu tau saya lebih dari siapun tapi bahkan untuk menjaga hati saya pun kamu tidak. Bayang-bayang kamu dan kita yang tak lenyap dari pikiran saya, tentang segala hal yang pernah terjadi. Saat ini saya hanya butuh ditenangkan entah oleh kamu atau siapapun tapi kenapa pikiran saya selalu meracau tentang kamu.
Kamu. Kamu. Kamu.
Betapa benci saya segalanya tentang kamu. Tentang kamu yang diam-diam saya cari tahu, tentang kamu yang selalu membuat saya takut, tentang kamu yang selalu membuat saya ingin lari, tentang kamu yang membuat saya merasa dijaga, tentang kamu yang membuat saya seperti memiliki peminpin dan semua tentang kamu yang membuat saya bodoh !!!
Kamu!!!


Kamu 

Awalnya kamu hadir sebagai sosok yang saya anggap biasa-biasa saja, namun saya suka cara kamu dan bahkan saya berpikir kita memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dan saya suka itu. Dan mungkin kamu hadir disaat yang tepat ketika saya harus melepaskan apa yang seharusnya saya lepaskan, namun ketahuilah tanpa saya inginkan  hati saya mulai tertuju pada kamu. Entahlah ini sedikit gila, namun saya memang seperti orang gila ketika mendapat pesan-pesan singkat yang kamu kirimkan meskipun tidak pernah lama untuk kita bertukar cerita mungkin sekitar setengah jam itu rekor terlama. dan sisanya pesan-pesan kamu memang singkat tapi kamu berhasil membuat saya terhipnotis dengan semua kata-kata kamu dan kebiasaanmu. Menggantungkan akhir membicaraan setiap kali kita bertukar pesan. Jujur saya sangat suka dengan sosok yang sedemian rupa, itu membuat saya penasaran dan seolah-olah ingin berjuang. Setidaknya kamu memang memberi saya harapan disana. Iya kamu memberi harapan atau mungkin saya yang lebih cepat berharap.  Kemudian apa yang saya dengar hari ini mungkin memang sedikit tidak masuk akal tapi ini membuat saya menarik napas agak panjang untuk memberikan ruang lenggang untuk dada saya yang tiba-tiba sesak. Ketahuilah seharusnya saat ini saya tersenyum bahagia karena hari ini tepat sehari sebelum usia saya bertambah. Bamun saya seperti dapat dua serangan sekaligus dan salah satunya karena kamu. Bahkan saat ini saya merasa sangat ragu untuk mempertahankan harapan saya, saya sudah memastika perasaan dan ternyata ini jawabannya saya berharap maka saya terluka bukan untuk pertama kalinya.

Rabu, 09 April 2014

RAHASIA(H)***

Menyimpanmu disini
dihatiku
Merindukanmu disini
dihati dan pikiranku
Mengucap namamu disini
ditempat terdalamku


Rabu, 26 Februari 2014

Surat Untuk Bayangan Semu

Hay, kamu apa kabar? sudah lama ya kita tidak pernah beradu dalam aksara, dan sore ketika aku menulis surat ini ditempatku turun hujan. Bagaimana ditempatmu? Disini wangi tanah basah yang menyeruak dibatang hidungku dan tiba-tiba aku ingat kamu. Semacam rindu...
Rindu yang tak pernah tersampaikan seperti rindu-rindu sebelumnya. Seperti pertemuan kita yang tak pernah ada dalam tatapan kedua pasang mata. Kamu bilang kamu mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri, kamu  bilang kamu suka dengan senyumanku, kamu bilang caraku berbicara membuat tawa dibibirmu, kamu bilang tatapanku sendu membuat candu, lalu kamu bilang kamu suka aku, namun kamu tak pernah bilang jika kamu ingin melihatku.
Aku bahagia ketika melihat setiap tulisanmu mampir di beranda blog pribadiku isinya hampir semua mirip tentang aku. Wajahku memerah tersipu dan jantungku seperti ingin meloncat keluar. Jika kamu ada disampingku ketika itu kamu akan tau betapa kekanak-kanakannya aku hanya dengan membaca tulisanmu. Kamu ingat terakhir kali kamu memposting sebuah tulisan yang dimana karena tulisan itu aku memberanikan diri untuk mengajakmu bertemu. Aku sekuat tenaga mebunuh perasaan maluku hingga aku bersedia menunggu kamu. Di sebuah taman samping sungai besar di tengah kota namun memandangan disana menabjukan katamu senja terlihat sempurna awan-awan yang mengelantung terlihat seperti gulali merah jingga, udara yang segar sehabis hujan pun rumput ilalang yang saling beradu ketika angin menerjang menambah ke indahan tempat itu. Namun hingga saat ini kamu tak pernah datang.
Dan hingga saat ini pula tulisan-tulisanmu itu tak pernah datang lagi. Mungkin seharusnya sejak awal pertemuan kita tak usah aku hiraukan dan juga tulisan-tulisanmu itu tak perlu aku pikirkan sebab apa yang aku baca adalah apa yang aku pikirkan lalu aku ketik dengan kedua jariku sendiri sebab aku sadar bahwa kamu memang tak pernah ada. 

Minggu, 24 November 2013

Sebuah percakapan tentang rindu pada malam rindu

Apakah aku akan tetap menjadi aku ketika kamu lupa tentang segalaku?
Apakah kamu akan tetap menjadi kamu meskipun senja hadir tanpa jingganya?
Apakah aku akan tetap menjadi aku ketika rindu mengendap membatu?
Ketika rindu tak bersisian dengan rasa mungkinkah itu rindu?
Tidak! rindu hadir karena rasa, rindu datang karena terbiasa
Lalu, apakah kamu akan tetap menjadi kamu ?
Mungkin, ketika ia tetap membuat aku merasa menjadi aku tanpa membuat apa itu rasa rindu
Bagaimana jika rindu itu tetap diam ditempat rasa yang tak terucap?
Sepertinya rindu itu harus lebih melebarkan sayap sabarnya, karena menahan rindu bukan perkara mudah 
Dari pada menahan, lalu kenapa tak diungkapkan saja, aku rindu kamu misalnya
Seandainya  bisa rindu itu sudah bersarang pada empunya
Ah tanpa bersarang pada empunya pun rindu sudah tau kemana dia pergi
Dia pergi namun tak kembali membawa separuh rindunya lagi. Dia tetap rindu sendiri
Tetap jaga separuh rindu itu, kelak akan ada separuh lagi yang menggenapkan rindumu menjadi utuh
Hingga kapan? hingga rindu separuh itu bergemuruh kemudian menyemburkan isinya hingga rindu berubah menjadi kecam yang sesal
Hingga rindu bercinta dengan rasa, bahkan gemuruhnya bisa membisukan debur ombak
Apakah rindu tak karam ketika ombak yang bergemuruh mengikisnya perlahan?
Meskipun rindu karam dia akan menjelma menjadi buih bersama ombak
Lalu rindu hanyut, pergi hilang tanpa tersampaikan
Tidak, tidak ia tidak tersampaikan, ia hanya terendap dalam pasir
Lalu haruskan rindu itu dikubur dalam-dalam hingga tak ada luka yang menggenapkan?
Biarkan rindu tersimpan rapi dijari penyair
Dan pada akhirnya dia tetap rindu sendiri

Kita???

Kita seolah fatamorgana yang fana, semu dan tak pernah ada. Hanya membubuhkan segumpal harap yang diberi pupuk terus menerus. Bahkan kita tidak sadar di depan mata ada sembilah pisau panas yang siap dengan sigap menancap ke kedua belah sisi, pada akhirnya kita tetap melebur dan terhapus.......

Rabu, 23 Oktober 2013

Saya



"iyaa, aku ga janji ya nanti malam bisa dateng, aku cape mau tidur, nanti aku kabarin lagi ya sayang. bye"

Lalu kemudian saya menutup panggilan itu dari seorang pria, sebut saja Dimas. Kekasih saya saat ini. Dimas mengajak saya untuk merayakan hari jadi kami yang baru genap satu bulan. Tetapi karena perasaan saya sedang tidak mood hari ini maka saya memutuskan untuk tidur saja. Merebahkan diri pada tempat tidur lalu dinina bobokan angin sepoy-sepoy sepertinya akan membantu mengembalikan mood saya yang sering kali hancur tiba-tiba ini. 

Pikiran saya melayang tak karuan bersamaan dengan hati saya yang kian berbenturan. Ketika saya mencoba untuk memulai kenapa saya merasa terbentur dengan sebuah keraguan? Ini memang ragu yang muncul tiba-tiba atau karena sebab akibat? Dan kenapa disaat yang bersamaan perasaan yang tak saya inginkan datang bermunculan. Saya teringat kembali pada sosok yang saya tunggu dulu, ia. Lalu pada kamu yang sekarang, saya merasakan sebuah perasaan cemburu tapi sayangnya saya tak ingin berterus terang.

Rintik-rintik hujan menyadarkan saya dari lamunan yang sedang merajai pikiran dan perasaan saya, sesaat saya melirik jam dinding telah menunjukan pukul 20.00WIB. Seharusnya saat ini saya sedang berpegangan erat dengan kamu, mungkin juga seharusnya saat ini kita sedang menikmati makan malam romantis. Atau mungkin jika saya pergi saya tidak akan seragu ini. Saya merasakan sesal. Saya tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Ada rasa sesak menjalar panas ke dada saya. Kenapa saya sering mengabaikan mereka yang mencintai saya, lalu larut dalam penyesalan yang saya ikat simpul yang kemudian saya sendiri sulit lepaskan jeratannya. Sesal itu selalu menghantui saya seolah-olah ikut kemanapun saya pergi. Mendampingi langkah saya, menyamar menjadi bayang-bayang tubuh saya, memayungi ketika panas, ikut menari bersama hujan saya, bahkan berbaring disamping saya ketika tidur. Lalu sekarang ia mengajak saya untuk bercermin meraih tangan saya menuntun tangan saya menghadap cermin besar yang ada dikamar. Berdiri dibelakang saya dan berkata banyak hal tentang kebodohan saya, telinga saya sakit mendengarkannya. Kepala saya pusing dicerca ingatan-ingatan yang terus menerus dia sebutkan. Tenggorokan saya perih terus berteriak menyuruh dia pergi. 

Saya sudah seperti manusia bodoh yang dipenuhi penyesalan. Saya benci perasaan saya sendiri. Saya ingin mengutuk rasa seperti ini lalu kemudian membuangnya jauh-jauh dari saya. Lalu kemudian saya lari kekamar mandi seketika membenamkan kepala saya pada bak mandi terus menerus sampai saya merasa kepala saya dingin. Trus dalam, semakin dalam sampai saya melihat kamu tersenyum rupawan. Lalu kemudian membangunkan saya dari tidur dan mimpi panjang saya mengecup kening saya dan berkata " Happy Aniversarry one month dear" dan menyerahkan sebuah bucket bunga. Seketika itu saya peluk kamu erat-erat sembari menangis karena rasa takut dan haru.


Dicintai Sosokmu

Dicintai sosokmu
Ku pikir ragu lalu sebuah cara melupakan

Dicintai sosokmu
Ku rasa tak akan bertahan lama lalu lenyap

Dicintai sosokmu
Aku mencoba membuka hati

Dicintai sosokmu
Aku seolah menjadi yang utama bagimu

Dicintai sosokmu
Menjaga hatiku itu keutamaanmu

Dicintai sosokmu
Kamu sabar akan aroganku

Dicintai sosokmu
Aku nyaman didekat kamu

Dicintai sosokmu
Aku takut jadi candu

Dicintai sosokmu
Aku suka dekapanmu

Dicintai sosokmu
Aku mencintaimu seperti kau mencintaiku

                                                                                                           Sukabumi, 23 Oktober 2013
                                                                                                                            NAI


Senin, 19 Agustus 2013

#ArisanBuku KlubBuku_SMI

Hay para sahabat klub buku *lambaikan tangan

Untuk para menggila buku pasti ga asingkan dengan nama KlubBuku. Nah aku mau cerita nih awal mulanya dibentuk KlubBuku_SMI itu sendiri. Mungkin untuk sebagian orang nama KlubBuku udah sering didengar. Karena followers dari akun twitter tersebut juga jumlahnya buka kapalang banyaknya, klub dimana isi nya para kutu buku, penikmat wangi buku, pencinta sastra, penyuka tulisan-tulisan dan tak sedikit para penulis luar biasa. 

so, kenapa aku pun beri nama KlubBuku_SMI untuk klub buku yang aku bentuk?

Sebenarnya ide ini muncul ketika disalah satu kota di Indonesia yaitu Jogjakarta lagi bikin acara pembacaan puisi judulnya Samudera10 . Iseng-iseng aku ngetweet ke akun twitter yang ngadain acara tersebut, kemudian aku sendiri dapat mention dari tweet kota kelahiran aku sendiri @sukabumiToday. Respon yang baik untuk awal yang baik, lalu kemudian salah satu temen aku nimbrung nih ceritanya karena ternyata dia juga setuju akhirnya dia ngajuin untuk buat klub buku yang mana bagian atau anak bawangnya @KlubBuku, dan berkat kerja sama para sahabat tercinta akhirnya terbentuklah @KlubBuku_SMI.

Klub buku ini sendiri baru dibentuk sekitar satu bulan yang lalu, bolehlah dikatakan newbe. Tapi insyaallah keahliannya ga newbe hehe. Dan ketika salah satu admin dari klub ini tau kalau gagasmedia lagi kerja sama dengan bukune dalam Arisan buku. Kami pun para tim ga mau ketinggalan, maka direkrutlah anggota-anggota #ArisanBuku KlubBuku_SMI dari para sahabat klub buku sukabumi. Senangnya para sahabat klub buku kami pun sangat antusias yuhuuuu.

                                           


Meskipun kami ini baru dipertemukan dengan para anggota KlubBuku_SMI, dengan orang-orang yang berbeda, dengan jenis buku yang digemari berbeda pula tapi satu kesama kami ialah melestarikan budaya membaca yang kini mulai jarang dilakukan para generasi penerus bangsa. Dan kami pun ingin menjaga para pencinta buku dikota tercinta ini untuk saling menyadarkan betapa pentingkan membaca buku. Membaca buku itu sama dengan membuka jendela dunia dan ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa, akan sangat disayangkan sekali jika para penerasi muda kini banyak yang tidak sadar akan pentingnya membaca. Buku itu adalah barang yang sangat berharga. Dengan menyisihkan sebagian waktu kita untuk membaca itu sama artinya dengan menjelajah dan membuka mata untuk melihat jendela dunia. Jika bukan kita yang saling mengingatkan siapa lagi???

Cukup dulu ya perkenalan awal dari kami, di lain kesempatan nanti aku ceritakan lebih lengkap lagi. Terimakasih pada Gagasmedia dan Bukune juga para sahabat kami semua :) 


Senin, 29 Juli 2013

?????????

Rasaku mengejar pada setiap lirikan angin
mataku beralih pada setiap sentuhan dingin
disana ada kamu yang menjadi cahaya dalam rasa dan mataku
mungkin kamu energi setiap inspirasiku
dan kamu yang akan tetap menjadi tanda tanyaku

Sabtu, 20 Juli 2013

Surat Terakhir


Aku mulai merasa resah setelah kamu pergi, lebih tepatnya setelah kamu memutuskan tidak meraih aku kembali. Tapi apakah kamu ingat satu hal? Tidak semua hal dapat berjalan instan contohnya saja perasaan aku yang butuh waktu untuk menerima keberadaan kamu dalam keseharianku. Terlalu bodoh mungkin untuk aku yang terlalu sering abaikan kamu. Hingga kamu memutuskan untuk mundur. Tidak masalah bagiku, bukankah hidup itu adil??? Mungkin Tuhan sedang mengajarkan aku makna keadilan.

Aku mengenal kamu dari seorang sahabat baik, bahkan sudah seperti sodara sendiri. Perkenalan kita ketika itu sama sekali tidak meninggalkan jejak mendalam bagiku semua terasa biasa saja tapi ternyata itu berbeda dengan kamu. Yang aku tau setelah pertemuan kita itu kamu perjuang untuk mencapai titik dimana hati aku menjurus ke kamu. Namun aku tau tidak semua orang cukup kuat untuk terus menerus diabaikan bukan??? Ketika aku mulai bisa menerima keberadaan kamu, ketika aku mulai ingin menata hati aku dengan kamu, ketika kehadiran kamu mulai menjadi candu tapi kamu pergi tanpa ada kata perlahan mundur.

Kamu tau ketika itu perasaanku seperti apa??? Aaahh mungkin tidak seserius kamu yang aku acuhkan berkali-kali hingga titik muakmu. Tapi sungguh aku merasa kehilangan kamu, aku sempat geram terhadap diriku sendiri mengecam sikap dan perasaan ku yang terlalu menuntut hati untuk menunggu dia yang telah lebih dulu hadir namun tak mungkin bagiku hingga akhirnya aku sadar setelah kehilangan kamu. Perubahan kamu terlihat kentara hingga rasanya aku ingin sebut kamu pemberi harapan palsu, kemarin kamu berikan beribu rasa dan perhatian lalu sekarang kamu seolah tidak ingat atau bahkan mungkin aku tidak pernah ada dalam list orang yang pernah kamu tau. Perlahan aku harus bisa menyeimbangkan perasaan aku kembali, seperti sebelumnya. Mungkin tanpa kamu lebih baik itu yang ada dalam pikiran aku. Egosi bukan??? Hahahaha lucu, marah pada diri sendiri. Entahlah  aku sempat berpikir perasaan ini sebagai obsesi belaka, lalu penasaran. Tapi aku telaah kembali perasaan ini benar-benar perasaan yang tulus, aku kehilangan kamu dan aku sayang kamu itu yang ingin aku katakan. 

Aku seperti sedang mengalami patah hati, rasanya napas ini sedikit tersendat bahkan aku merasa melayang ketika berjalan. Aaaaaahhh mungkin perasaan aku juga dicampur oleh dramatisir yang terkadang dipadupadankan dengan mood yang sering kali terkontaminasi berbagai macam hal tidak penting kemudian membuahkan perasaan yang tidak begitu baik. Mungkin seiring berjalannya waktu semua akan kembali normal perasaan aku pada kamu akan berkurang. Aku juga menanamkan satu hal "Nikmati hidup ini. Dengan perasaan apapun, ikuti semua seperti arus air, jika semesta mengizinkan pada sebuah muara kita akan dipertemukan" aku mencoba untuk itu menjalani hidup seperti hari-hari biasanya menyenangkan dengan hiasan harap terhadap kehadiran kamu, harap itu hanya sedikit. Hanya sedikit saja aku tanamkan. Dan kita seolah sepasang manusia yang kaku, seolah tak tau pernah ada keinginan dari aku dan kamu untuk menjadi kita. Sebetulnya aku pun ingin rasanya mengaku pada semesta tentang rasa ini tapi aku bukan seseorang yang cukup berani untuk itu. Memilih untuk diam sepertinya memang keputusan yang tepat.

Dan ternyata menyimpan perasaan diam-diam juga bukan perkara mudah. Kamu pasti paham dengan maksud yang ingin aku tuju. Tapi aku tidak pernah merasa menyesal, bahkan sebaliknya aku adalah seseorang yang beruntung pernah menjadi sosok yang diinginkan oleh seseorang seperti kamu yang akhirnya dibahagiakan dengan seseorang yang tepat. Selamat untuk kamu :)
                                                                          
                                                                                  ***

"iyaa. maaf ya bikin kamu nunggu. ini ada kepentingan mendadak, sebentar lagi aku kesana"

Aku pun menutup panggilan dari seseorang yang tak lain adalah sahabatku sendiri dengan jari yang masih menggenggam selembar kertas surat yang kemudian aku masukan dalam botol kaca lalu meleparkannya jauh-jauh dengan perasaan yang sulit aku gambarkan lalu pipiku basah tiba-tiba, bulir-bulir air mata itu meluncur tanpa meminta izin terlebih dahulu memaksa untuk keluar ikut mengantarkan rasa belum tersampaikan. Aku melepaskan pandanganku lurus kedepan mencapai titik akhir pantai yang menjadi tempat pertama pertemuan ku dengan sosok yang besok akan menjadi suami dari sahabatku sendiri.

Rabu, 17 Juli 2013

Hanya Sekedar ....

Aku pernah merasakan gengaman hangat seseorang yang nyata dalam anganku meski itu hanya singkat
Aku pernah melihat matanya yang berbinar walaupun itu hanya sesaat
Aku pernah mencuri tatapannya lekat-lekat meskipun itu berbatas jarak
Aku pernah mendengar parau suaranya meskipun itu samar-samar

Hanya sekedar,,
Aku pernah menyimpan harap, meskipun tak akan pernah terbalas

Lewat Tengah Malam

"jangan dulu matiin lampunya !"
"kenapa? ini udah lewat tengah malem, kamu masih aja belum tidur, aku udah mulai ngantuk nih"
"aku masih nunggu, kayanya ia juga belum tidur, kamu tidur duluan aja"
"aaaaahh asas praduga!!! siapa tau ia  udah terbang ke negeri mimpi, lagi pula dari mana kamu tau kalau ia belum tidur"
"feeling !"
"sejak kapan kamu mulai  main-main sama feeling, bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau feeling kamu itu dibawah rata-rata"
"aaahhh biarin yang jelas aku tetep mau nunggu ia sampai ia tidur"
"aneh ! kenapa ga coba kamu sms atau bbm ia aja sih"
"itu karena kita udah ga kaya dulu lagi. kamu juga lebih tau itu kan?"
"yaaah, sekedar membuktikan penasaran sama feeling kamu aja, tiap malem bela-belain begadang cuman buat nunggu orang yang belum tentu juga nunggu kamu, berharap dia ngasih kabar tanpa ada sebab. Kamu ga cape?"
"ya nikmatin aja, kamu juga ga cape berantem tiap malem sama pacar kamu?"
"hahahahha iyaa nikmatin aja juga"

Percakapan seperti ini sering kali terjadi pada pukul 12 malam lewat di dalam sebuah kamar kost yang sempit antara aku dan sahabatku. Dia dengan pacarnya memang sering kali terlibat sebuah konspirasi huru hara yang ga pernah ketemu titik akhirnya, sedangkan aku sendiri malah menjadi seorang pengharap yang tingkat harapannya mencapai titik puncak selama hampir 1th. Berharap pada seseorang yang sebelumnya pernah aku abaikan. Mungkin ini lah kuasa Tuhan akan sebuah keadilan. Hanya sekedar berharap setiap malam ia kirim sms atau bbm ga penting itu rasanya udah kaya terbang sejauh-jauhnya. Membolak-balikan halaman twiiternya atau sosial media yang lain  itu udah kaya rutinitas yang ga boleh kelewat setiap harinya. Sebelum tidur dan ketika bangun. Atau mendadak bikin personal message di bbm tengah malem karena liat ia recent semata-mata itu buat mancing ia agar bbm. Dan ga tau kenapa feeling yang buruk ini bilang ia masih sama seperti dulu, masih berharap adanya kita diantara aku dan ia meskipun itu ga sebesar dulu. Ia kecewa ya! aku tau itu.

Kila sepertinya sudah tertidur lelap. Ya bagaimana tidak dia baru saja menyelesaikan perdebatan rutinnya dengan seseorang yang disebut pacar yang sudah 6th tahun lamanya. Terkadang aku yang menyaksikan perdebatan itu merasa jengkel dan cape sendiri apalagi dia yang mengalaminya. Tapi inilah kenikmatan hidup yang sering kali kami sebutkan. Aku mengenal Kila sejak kami kuliah, 3tahun lebih. Kami dipertemukan ketika ospek, dia orang pertama yang aku lihat ketika masuk ke dalam kelas. Waktu itu Kila sembalas senyumku dengan ramah, kami pun mulai akrab lalu memutuskan untuk tinggal satu kamar kost karena kami adalah sama-sama pendatang ke kota tempat kami kuliah ini. Aku hanya memperhatikan raut lelah yang tersirat diwajah Kila. Perempuan yang kuat dan sabar :)

Handphoneku tetap saja tidak menunjukan kehadiran sms bbm atau pun yang lainnya, padahal ini sudah hampir pukul 01:30 malam. Mungkin memang sepertinya ia sudah tidur, apa sebaikanya aku juga tidur? pertanyaan itu menghampiri pikiranku. Tapi rasa penasaranku tetap tidak hilang juga.

"Ya sudahlah tidur mungkin lebih baik, siapa tau ketika bangun ada sms, bbm, atau panggilan tak terjawab dari ia. heemmm Selamat Malam"

Mematikan lampu kamar, kemudian meletakan ponsel di samping kepalaku yang bersejajar dengan kepala Kila dan ponselnya lalu pejamkan mata.

"Selamat Tidur"

Dddrrrrrrrtttttttt dddrrrrrrttttt ddrrrrttttttt dddrrrrrttttttt

Aku memaksakan bangun dari setengah alam sadarku, memaksakan bangun dari rasa kantun yang datang setelah dipejamkan. Aku meraih handphone  yang ada disamping kepalaku, ada panggilan masuk. Mataku kontan membelalak seperti akan keluar, nama yang tertera dia layar handphone itu nama ia. 3 panggilan tak terjawab. Kemudian handphone tersebut bergetar kembali ketika aku akan menekan tombol hijau panggilan itu tiba-tiba mati, kemudian LED ponsel menujukan ada sebuah pesan masuk. Tak perlu pikir panjang aku pun  membukanya.

" sayang maaf ya, tadi aku ketiduran. kamu ga apa-apa kan? pasti udah tidur ya, ya udah salamat malam :* "

Aku mulai menerka-nerka isi pesan singkat ini. Sayang??? kamu ga apa-apa??? tanda titik dua bintang???
Aku hanya diam, memperhatikan nya. Ini sms tertuju kepadaku atau salah kirim???
Aku mulai lebih seksama memperhatikan pesan itu, kemudian tersadar satu hal yang aku gengam bukan handphone milikku sendiri tapi milik Kila. Karena handphone kami sama itu membuat kami sering salah mengambil handphone masing-masing. Lalu kenapa yang keluar namanya dari handphone ini nama ia bukan nama pacarnya???

Perasaan tidak karuan mulai menderaku. Aku meraih handphone satunya lagi untuk lebih memastikannya kemudian menuju phone book untuk menyamakan no yang tertera dan ternyata. SAMA.

Aku hanya menatap pasif kedua handphone lalu melihat Kila yang lelap dalam tidurnya.

Rabu, 03 Juli 2013

Diatas Sehelai Daun Kering

Hay, aku menyukaimu.
aku sudah menyukaimu kali pertama kita bertemu, eh tidak kali pertama aku melihatmu sebagai kamu yang tak pernah kamu tunjukan pada berjuta pasang mata dimuka bumi ini.
Pertemuan kita ini takdir, atau hanya kebetulan yang menyimpan alasan untuk selalu bersama setiap waktu?
Aaaahh aku rasa, aku tak peduli tentang itu.
Aku hanya ingin menjadi bagian terkecil dalam hidupmu, tidak ingin kamu lihat dengan sepasang mata genitmu. Atau kau pikir dalam memori pikirmu yang mungkin nanti akan hilang karena serangan pikun  dikemudian hari. Tapi cukup pahami dan tersenyum namun jika kamu berkenan, bisakah kau jadikan aku ilusi dalam satu tulisan magismu. Hanya itu. Kamu boleh menggunakan daun kering untuk alasnya kemudian daun itu bisa kamu simpan dalam sebuah kotak lusuh yang kamu tumpuk dengan kenangan-kenangan manismu. Lalu pada kemudian hari kamu menemukan kotak itu, membukanya dan menemukan aku kembali disana sebagai zat yang pernah menjadi diam untuk beberapa alasan klasikmu.
                                                                                 
                                                                               ***

Aku menemukan sehelai daun kering didalam kotak kayu  disudut atas lemari bajuku setelah 8th berlalu. Aku tersenyum sendiri ketika aku membaca bait demi bait kata yang tertulis tak karuan diatas daun itu.

diam itu suara kita
diam itu bahasa kita
diam itu cara kita
diam yang mempertemukan kita

                         *
rinai hujan menyambut angin dengan suka cita
aku melihatmu tersenyum dlm kabut rintik
kita menari dengan hujan berjarak kabut
kita lekat tapi seolah enggan menjadi pekat
kita jeda yang ingkar terhadap jarak
aku menyukaimu dalam diamku.


Ingatanku melesat jauh kembali pada 8th yang lalu ketika aku tidak sengaja menemukan selembar kertas coklat bertuliskan sebuah kalimat dalam buku temanku yang membuat aku ingin menulis di atas sehalai daun kering.

Sabtu, 29 Juni 2013

Angin Kehilangan Hujan

Sunyi malam angin bergemuruh menerbangkan puingpuing rumah lumpuh. Tak ada suara yang terdengar sedikitpun kecuali bisikan angin yang mencari rintik hujan yang hilang, sesekali ia pun mengaduh dan meringgis. Angin kehilangan rintik hujan. Rintik hujan yang selalu membawakannya irama yang sendu. Sendu yang terkadang ia acuhkan dalam topan yang berusaha mengusir hujan.
Namun,
sendu itu membuat ia candu.

"bukankah semesta sering sekali memasangkan rintik hujan dengan angin? bahkan pada setiap hujan anggin selalu hadir ikut andil dalam menyatukan ketukan irama." bisik ranting pohon yang daunnya mulai berguguran pada pucuk pohon.

Angin hanya diam dan pura-pura tidak mendengar. ia hanya ingin mendengar rintik hujan. Seperti seorang kekasih yang merindukan kekasihnya yang sering ia acuhkan.

Kamis, 27 Juni 2013

seperti tali

Tuhan tegur saya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya !
Harap ini jangan dibuat melambung terlalu tinggi hingga jatuhnya sakit bukan main. Sampai tulangnya seolah meremuk dalam kubangan keraguan dan harap tak sampai. Penyesalan dan keinginan yang melambung tinggi yang kemudian berkali-kali tertarik mundur ke sisi paling akhir...
Hancurrrrrrrrr......
Tapi kenapa semesta seolah dekatkan saya pada kesakitan yang berulang???
Tuhan tolong tegur saya lebih jelas !
Rasa ini bukan tali layangan yang siap ditarik ulur sang pengendali. Jangan biarkan rongganya semakin menyempit, jika ingin pergi maka biarkanlah pergi, jangan tarik lagi tali yang sudah dilepaskan. Jangan lagi siram luka basah yang sulit mengering lagi dan lagi. Biarkan talinya terbang seperti layang-layang, dan melebur bersama angin melayang ketepian awan menjemput nila.
Hingga akhirnya berlabuh pada kabut jingga nya senja....

Rabu, 12 Juni 2013

ketika...

aku ingin menjadi aku ketika kau menjemput senja jingga itu
aku ingin menjadi aku ketika hujan membasahimu dengan rintiknya
aku ingin menjadi aku ketika jejak kakimu mengarungi tepian pantai
aku ingin menjadi aku ketika malam datang menemani heningmu

dan aku tetap ingin  menjadi aku ketika kau lupa tentang segalaku

Senin, 10 Juni 2013

Lelaki Itu

Siang itu aku merebahkan tubuhku pada kasur berwarnakan merah hitam yang dipadupadankan dengan corak absrak favoritku. Segala perasaan berkecamuk menjadi satu. Perjodohan. Itu yang tengah menguasai fikiranku. Cinta datang karena terbiasa itu terdengar sangat klise, tapi setidaknya hanya kata itu yang membuat aku merasa sedikit tenang. Tapi apa betul bisa semudah itu? Sedangkan aku sendiri bukan sosok wanita yang mudah jatuh cinta. Contohnya saat ini aku masih tetap setia berkutat dengan cinta pertamaku. Lekaki itu yang sudah sejak lama menjadi sahabatku dan juga mengejar cintaku satengah mati. Terlalu banyak momen yang kita lewati bersama namun sering sekali aku mengabaikan itu sampai pada akhirnya dia menyerah dan aku baru menyadari aku kehilangannya.

Sejak 5th yang lalu. Sejak dia memutuskan ikut dengan tantenya kuliah di Malaysia. Memang tak pernah terjadi pertengkaran hebat ketika itu hanya saja aku menolak dia untuk kesekiankalinya. Dan ketika esoknya aku hanya mendapatkan sepucuk surat yang isinya permintaan maaf dan ucapan selamat tinggal. Sebetulnya aku marah, kenapa dia tidak berterus terang namun aku sadar dia pasti punya pemikiran yang lain. Apalagi setelah aku menolaknya. Awal-awal kepergiannya bukan suatu hal yang terlalu buruk namun selang 1 minggu dari sana aku tiba-tiba menangis meraung sendiri. Aku kehilangan dia. Aku merindukan dia.

Itu lah manusia dia cenderung tidak peka terhadap hal-hal yang sudah menjadi keterbiasaanya, terlalu nyaman dengan keadaan hingga tak dasar ada sepotong rasa yang terbalas. Iya aku baru menyadarinya aku pun mencintai dia seperti dia mencintai aku. Meski tak sempat kata itu keluar di hadapannya. Dan sampai saat ini aku masih menunggu dia untuk kembali. Berharap dia kembali.

[  Segera persiapkan dirimu nak, untuk pertemuan nanti malam. Calon suami mu beserta keluarganya akan datang. Jangan membuat malu bapak dengan keputusanmu nanti. Bapak tau kamu pasti sudah paham apa yang bapak harapkan ]

Pesan singkat yang aku dapatkan dari bapak ku sontak saja membuat kepalaku semakin tak karuan.

                                                                                ***

Malam itu mungkin akan menjadi malam yang tersulit bagiku, sangat sulit. Ingin rasanya aku melewati saja fase ini. Tapi bagaimana dengan keluargaku yang berharap banyak pada keputusanku. Aku akan dijodohkan dengan lekaki yang tak aku kenal. Yang kata bapak adalah anak dari sodara teman lamanya bapak. Tau namanya saja tidak dan dalam pertemuan pertama sudah disebut calon suami. Oke ini bukan zaman nya siti nurbaya. Negara kita ini sudah bebas mengeluarkan pendapatnya sama hal nya dengan ini bukan? Tapi apa yang dapat aku lakukan di usia ku yang akan menginjak 30th ini. Yang setia dengan pekerjaan dan kesendirian, aku paham orang tuaku khawatir tentang itu sedangkan sodara-sodara perempuanku saja di usia 25th sudah menikah dan bahkan ada yang sudah memiliki anak.

"Indri, ayo kita keluar nak, keluarga calon mu akan segera datang"

" iya bu, sebentar lagi indri keluar"

"jangan membiarkan mereka terlalu lama menunggu ya nak"

"iya bu"

Ibu pun keluar dari kamarku, sedangkan aku masih duduk bimbang di depan cermin.
Seandainya dulu aku lebih awal menyadari perasaanku apa mungkin saat ini aku sedang berbahagia dengan sosok lelaki yang aku tunggu sampai saat ini? dengan membangun sebuah rumah sederhana di pinggir pantai dengan pemandangan yang tepat menghadap senja. lalu membersarkan dua orang anak. Lengkap sudah rasanya kebahagiaaku. Tapi bagaimanapun itu tidak mungkin terjadi. yang saat ini aku harus lakukan ialah keluar dari kamar ini lalu bertemu dengan seorang lelaki yang kan menjadi suamiku kelak. Aku yakin ini yang terbaik untukku, untuk kebahagiaan aku, untuk membahagiakan orang tuaku.

Akupun segera bergegas merapikan pakaian dan keluar dari kamar.

"terimakasih sekali pak. atas kesediaan hadirnya kemari, rasanya jadi saya yang deg deg an gitu ya"

"aaahh sama-sama pak, jangan kan bapak saya pun juga demkian. semoga saja niat baik kita semua ini di ridhoi sama Allah SWT ya pak"

"amiiinnn, nah ini pak putri saya Indri. nak ini keluarganya calon mu. Pak Gusti dan Istrinya beliau ini Uwa nya"

Aku pu memberikan salam dan senyuman khasku meskipun sedikit pilu.

"Calon mu sedang ketoilet sebentar"

"Iya pak"

Aku memang harus benar-benar melepaskan dia disini. Sekarang dan memulai lagi hidup baruku. Memulai semua dari awal, mencoba untuk lebih peka lagi. dan berusaha menciptakan perasaan yang seharusnya. Disini aku harus lebih berpikir secara logika bukan dengan perasaan. Melanjutkan hidupku yang nyata dan mengubur rasaku yang anggan.

"maaf saya membuat semuanya menunggu"

"nah, ini dia keponakan saya. Rangga Aldiputra"

Sekejap aku sadar dari lamunanku dan membalikan pandangan pada sosok yang tadi disebutkan namanya. Aku Terpaku. Mata ku membelalak seolah ingin meloncat. Lelaki itu yang duduk didepanku tersenyum hangat, nyaman, akrab. Tiba-tiba air mataku meleleh.

                                                                            ***

Lelaki yang aku lihat saat itu Rangga Aldiputra sahabatku dan cinta pertamaku, lelakipun yang kini sedang tertidur pulas disampingku  yang juga telah memberikanku dua buah hati. Lelaki yang sepertinya tuhan gariskan untukku. Menjadi satu-satunya lelaki dalam hidupku. Yang membuat aku sadar cinta itu bisa datang karena terbiasa, yang membuat aku menyesal tak peka akan kehadirannya, membuat aku paham sepi ketika kehilangannya, bahkan tetap setia berharap menunggu akan semuanya kembali lagi dan menangis haru ketika kita dipertemukan kembali.

Dan aku sangat mencintai Lelaki itu. Suamiku.

Masih Tentang Rasa Yang Sama

aku sisipkan setitik asa yang ku gurat halus
jemariku ku biarkan menjelajah setiap hurup
yang kemudian tersusun sebuah kalimat.

termenung......

rasa yang harus kutinggalkan
namamu tersisip pada kalimat yang tak berintuisi itu
masih tentang rasa yang samakah?

terbang bersama lalu yang menyisikan luka tak kering
bangkit dari duri namun terperosok pada jerami
hatiku tergores lagi mengingat kamu